Dilansir dari laman Science Daily pada Rabu, 16 September 2026, yang menjadi masalah adalah pusat peringatan tsunami nasional Prancis atau Centre d'alerte aux tsunamis (Cenalt), dirancang mengirim peringatan awal dalam waktu 15 menit setelah gempa yang berpotensi memicu tsunami.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa dalam tsunami yang sumbernya sangat dekat, masyarakat mungkin tidak bisa hanya mengandalkan notifikasi peringatan.
Situasi di French Riviera pun memberikan satu pelajaran penting bagi negara rawan tsunami seperti Indonesia, yaitu mengetahui ke mana harus menyelamatkan diri saat mendapat peringatan mendadak.
Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?
Alih-alih hanya mengandalkan sistem peringatan, peneliti dan pemerintah di Nice menyiapkan jalur evakuasi, titik perlindungan, serta edukasi agar masyarakat tahu tindakan yang harus dilakukan ketika ancaman muncul.
Hampir 100 titik perlindungan telah dimasukkan dalam rencana evakuasi kawasan Nice Côte d'Azur.
Pada Juni 2026, kawasan tersebut bahkan mendapat pengakuan Tsunami Ready dari UNESCO setelah memenuhi 12 indikator kesiapsiagaan, termasuk pemetaan risiko, edukasi masyarakat, rencana evakuasi, dan sistem peringatan.
Bagi Indonesia, prinsipnya bisa diterapkan dengan sederhana, yaitu jangan baru mencari jalur evakuasi ketika tsunami sudah datang.
Jika gempa kuat terasa di wilayah pesisir atau muncul tanda alam seperti perubahan laut yang tidak biasa, masyarakat perlu segera menjauh dari pantai menuju tempat yang lebih tinggi atau mengikuti jalur evakuasi yang telah ditentukan.
Ketika waktu yang tersedia hanya hitungan menit, kesiapan sebelum bencana bisa menjadi pembeda antara sempat menyelamatkan diri atau terlambat. (Wisa Irena Br Sitepu)