Militer Mesir dikabarkan serbu media daring berpengaruh di Kairo. Foto: AFP
Militer Mesir dikabarkan serbu media daring berpengaruh di Kairo. Foto: AFP

Aparat Keamanan Mesir Serbu Kantor Media Daring Berpengaruh

Internasional mesir
Arpan Rahman • 25 November 2019 17:06
Kairo: Aparat keamanan Mesir menggerebek sejumlah kantor media daring independen utama negara itu. Padahal media telah digambarkan sebagai benteng terakhir kebebasan pers di Mesir.
 
"Pasukan keamanan berpakaian sipil telah menggerebek kantor Mada Masr di Kairo," tweet situs web tersebut.
 
"Staf saat ini ditahan di dalam, dan telepon mereka telah dimatikan," lanjutnya, dirilis dari Guardian, Minggu 24 November 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pasukan keamanan pergi tiga setengah jam kemudian setelah menahan setidaknya tiga anggota staf termasuk kepala editor, Lina Attalah.
 
Satu orang Amerika dan satu anggota staf Inggris dibawa untuk mendapatkan paspor mereka, di tengah kekhawatiran mereka mungkin akan dideportasi. Semua kemudian dibebaskan.
 
Penyerbuan kantor Mada Masr mengikuti penangkapan salah satu editor mereka di rumahnya sehari sebelumnya. Shady Zalat, seorang karyawan sejak 2014, dibebaskan dari penahanan di sebuah jalan di pinggiran Kairo satu jam setelah serangan itu berakhir.
 
"Lina Attalah tahu kemarin bahwa penangkapan adalah tes untuk melihat apakah pihak berwenang bisa lolos dengan ini,” ujar profesor politik di Kairo, Rabab El-Mahdi.
 
Mahdi bergabung dengan yang lain berkumpul di luar kantor Mada Masr. Sementara polisi menahan staf di dalam dan mencegah masuknya pengacara penerbit.
 
Mada Masr menjadi satu-satunya jalan keluar dari penumpasan berkepanjangan terhadap media independen dan kritis di Mesir, dan telah memenangkan banyak penghargaan. Media itu terus menerbitkan jurnalisme kritis dan bahkan investigatif di lingkungan di mana media yang independen dari negara itu telah semakin terbungkam. Pada satu titik ia dipaksa untuk mendistribusikan artikel melalui Facebook setelah situsnya diblokir di Mesir dua tahun lalu.
 
"Jika Anda tidak ingin propaganda, Mada adalah satu-satunya tempat," kata Mahdi. "Sebagai warga negara Mesir, ini adalah jenis terakhir dari layanan yang kami miliki di negara ini," cetusnya.
 
Sejak berkuasa dalam kudeta militer pada 2013, Presiden Mesir, Abdel Fatah al-Sisi, mengawasi tindakan dan hukuman atas kebebasan berekspresi. Ia menahan para jurnalis dan mengadili mereka ketika militer dan pasukan keamanan negara memperketat cengkeraman mereka pada media negara.
 
Setidaknya 25 jurnalis ditahan pada 2018, menurut Committee to Protect Journalists. Reporters Without Borders menyebut negara itu sebagai "salah satu penjara terbesar bagi jurnalis", menempatkannya pada peringkat 163 dari 180 negara di dunia dalam hal kebebasan pers.
 
Negara ini memiliki banyak undang-undang yang mengkriminalkan ‘berita palsu’, dan parlemennya memperdebatkan undang-undang yang akan memenjarakan mereka yang dihukum karena "menyebarkan desas-desus".
 
Pengaruh Mada Masr tumbuh ketika lingkungan media di sekitarnya memburuk. Gerai berita yang mengandalkan ketergantungan pada teks pra-tertulis yang dikirim kepada mereka oleh pejabat pemerintah sudah meluas di Mesir sehingga menjadi subjek dari momen viral suram awal tahun ini ketika seorang pembawa berita membacakan kata-kata "dikirim dari perangkat Samsung" di akhir dari item tentang kematian mantan presiden negara itu, Mohamed Morsi.
 
Serentetan protes anti-pemerintah pada September memicu tindakan keras baru di Mesir. Sedikitnya 4.427 orang ditangkap, menurut organisasi yang berbasis di Kairo, Komisi Hak Asasi Manusia dan Kebebasan, sementara jaksa penuntut umum Mesir mengatakan 1.000 orang ditangkap. Gelombang penangkapan termasuk wartawan Esraa Abdel Fattah, yang disiksa dalam penahanan dan dituduh melakukan tuduhan termasuk menyebarkan berita palsu dan penyalahgunaan media sosial.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif