medcom.id, Qaraqosh: Di kota yang semula dihuni mayoritas umat Kristen Irak, Qaraqosh, waktu masih berdetak. Kelompok militan Islamic State (ISIS) terusir pada Oktober 2016. Tapi kehidupan belum lagi kembali ke lingkungan yang dulu pernah gemerlapan dan kaya-raya.
Suasana seperti berhantu: jalan-jalan lebar tapi sunyi. Bahkan tak ada bunyi mainan dari kaleng kosong yang ditiup angin atau dedaunan luruh gemerisik di taman yang ditinggalkan oleh para penduduk kota ini.
Kota yang terletak di jalur utama dari kota Arbil, sesekali laju mobil bersicepat melaluinya, tetapi hanya sedikit orang yang mau berhenti.
AFP mengunjungi kota ini beberapa kali pada Maret. Berbicara dengan warga setempat di awal bulan dan kembali menyusuri jalan-jalan sepi di hari-hari terakhir.
Qaraqosh porak-poranda dirusak oleh ISIS, yang mencaploknya pada Juni 2014, ketika mereka mengamuk di bagian utara Irak. Militan menduduki kota kedua Mosul dan kawasan yang dikenal sebagai Lembah Niniwe, kampung halaman bagi banyak minoritas miskin Kristen di negeri itu.

Foto: AFP.
Para ekstremis bekerja untuk menghapus tanda-tanda keimanan di Qaraqosh. Mereka menghancurkan ikon, menggulingkan menara lonceng gereja, dan secara sistematis mencongkel salib yang pernah menghiasi setiap panel dinding luar gereja Mar Bahnam wa Sara.
Satu demi satu rumah dibakar atau diledakkan, dan gereja Mary al-Tahira yang telah rusak ditancapkan bendera ISIS disertai berbagai ancaman.
"Tanpa ISIS, tidak akan ada keselamatan atau perdamaian baik di Irak atau Suriah," terbaca grafiti di marmer belang-belang dari sebuah pilar.
Halaman gereja digunakan untuk latihan sasaran, dan ratusan selongsong peluru masih tersisa bertumpukan di samping buku musik berisi lagu-lagu rohani.
Suasana itu memilukan bagi Aram Saqt, 24 tahun. "Seluruh hidup saya di sini dan dulu hidup adalah kebahagiaan," katanya kepada AFP, seperti dilansir Rabu 29 Maret 2017.
"Perasaan saya lebih dari kesedihan, saya bisa mengatakan bahwa hati saya hancur," tambahnya, sambil berjalan melintasi ruang utama gereja Maria al-Tahira yang hangus dan membawa dirinya ke altar.
"Saya ingin menangis, sejujurnya. Ketika Anda mengingat kehidupan yang Anda punya, dan bagaimana hal itu sekarang, terasa sesuatu yang sangat menyedihkan," tuturnya
Tiada Tempat Seperti Ini
Qaraqosh, juga dikenal sebagai Hamdaniya atau Bakhdida, pernah menjadi salah satu kota Kristen yang paling penting di Irak.
Tapi sekarang kebanyakan orang yang muncul di jalan-jalan, seperti Saqt, anggota Unit Perlindungan Lembah Niniwe (NPU), sebuah milisi Kristen kecil yang bertugas melindungi kota.
Para pejuang hanya sedikit bekerja, selain memeriksa mobil di pintu masuk dan keluar kota. Bahaya yang ditimbulkan oleh ISIS telah surut dihantam serangan pemerintah Irak terhadap kelompok militan di dekat Mosul.
Tetapi jika Qaraqosh sekarang aman, penduduk berkata untuk kembali tetap tidak mungkin. Berbagai layanan dasar belum pulih dan tidak ada cara buat memperbaiki rumah mereka.
"Di mana kita bisa kembali? Harus ada air, listrik, saluran air limbah, keamanan," teriak Imama Behnan, yang sekarang tinggal di dekat Arbil dengan keluarganya.
"Kami menunggu mereka untuk membebaskan kota, sehingga kami bisa kembali, dan sekarang ini adalah pembebasan," keluhnya.
Ketika dia meninggalkan rumahnya pada 2014, ia berasumsi pengungsiannya akan berlangsung singkat. "Saya membersihkan rumah, menutupnya, dan pergi. Kami pikir itu hanya akan pergi satu atau dua hari dan kami akan kembali. Sekarang sudah tiga tahun," katanya, menangis.
.jpg)
Foto: AFP.
.jpg)
Foto: AFP.
Banyak warga Qaraqosh sudah menyerah, beremigrasi ke Eropa, Amerika Serikat atau Australia, tetapi Behnan menolak bergabung dengan putrinya di Belanda.
Dia dan orang lain seperti dia di Arbil menerima bantuan dari gereja, yang kepemimpinannya pindah ke kota beserta jemaatnya.
Tapi mereka masih merindukan rumah. "Tidak ada tempat seperti Qaraqosh -- bahkan ISIS mengatakan mereka sendiri tidak bisa percaya," dia tertawa.
Mereka tak Ingin Kami Kembali
Kehampaan Qaraqosh mencerminkan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah Irak. Banyak kota dan desa yang telah dibebaskan dari ISIS, tapi tetap tanpa layanan dan infrastruktur serta dana rekonstruksi kurang.
Namun, warga Qaraqosh juga menuduh mereka yang terjebak dalam perselisihan politik antara wilayah otonomi Kurdi Irak dan pemerintah federal negara tersebut.
Mereka menuduh pasukan Kurdi mencegah mereka pulang kampung, dan berusaha memperluas kendali mereka atas kota ini.
"Mereka tidak ingin orang-orang Kristen kembali ke sini, mereka ingin mengontrol wilayah ini," kata Jamil Salaheddin al-Jamil, penduduk asli dan anggota NPU Qaraqosh.
"Mereka ingin mengambil daerah-daerah tersebut karena itu daerah milik orang Kristen dan menjadi daerah strategis antara Arbil dan Mosul," tudingnya.
Tuduhan tersebut diulang oleh orang lain, yang menuduh pasukan Kurdi bahkan mencegah pemakaman di kuburan setempat. Namun wakil menteri dalam negeri pemerintah daerah Kurdi membantah tuduhan.
"Kami berharap para pengungsi akan kembali ke rumah mereka secepat mungkin, dan dari pihak kami, kami tidak menghambat jalan mereka kembali," kata Jalal Karim kepada AFP.
Ia mengakui, beberapa pengungsi tidak bisa kembali karena "bom dan ranjau disebarkan di sejumlah daerah". Tetapi bersikeras bahwa "kami membantu (para pengungsi) dan mendorong mereka untuk kembali".
Warga merasa mereka tidak memiliki seorang pun untuk dirindukan, dan Jamil telah memutuskan beremigrasi ke Prancis, setelah bertahun-tahun mengadvokasi kehadiran umat Kristen di Irak.
"Saya punya harapan dan impian, segalanya, saya rasa sudah cukup. Orang-orang Arab tidak menghormati saya, Kurdi tidak menghormati saya, pemerintah tidak menghormati saya," katanya.
"Mengapa harus mencintai bangsa yang diperintah satu golongan saja?" dia bertanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News