Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) memperingatkan meningkatnya polusi akibat kebakaran hutan dan gelombang panas dapat menghambat upaya global memperbaiki kualitas udara sekaligus melindungi kesehatan manusia dan ekosistem.
Melansir Anadolu Ajansi, Rabu, 9 September 2026, dalam laporan tahunan Air Quality and Climate Bulletin, WMO menyoroti hubungan erat antara perubahan iklim dan polusi udara.
Lembaga di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu mendorong kebijakan yang lebih terkoordinasi untuk menghadapi kedua persoalan tersebut.
Kematian akibat Asap Kebakaran Bisa Lebih Tinggi
Salah satu temuan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya kejadian ekstrem asap kebakaran secara global.WMO mengutip sebuah studi yang menunjukkan kejadian ekstrem asap kebakaran telah meningkat tiga kali lipat sejak 1990-an. Kondisi tersebut diperkirakan berkontribusi terhadap hampir 100.000 kematian tambahan setiap tahun selama periode 2010 hingga 2018. Namun, angka tersebut masih berpotensi lebih rendah dari kondisi sebenarnya.
WMO memperingatkan model risiko konvensional kemungkinan meremehkan angka kematian akibat kebakaran hutan hingga 93 persen. Salah satu penyebabnya adalah model tersebut belum memperhitungkan secara memadai tingkat toksisitas partikel halus atau PM2.5 yang berasal dari kebakaran.
Apa Itu PM2.5?
PM2.5 merupakan partikel berukuran sangat kecil yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan. Karena itu, tingginya paparan asap kebakaran menjadi persoalan kesehatan yang tidak bisa dianggap sepele.WMO menilai perubahan iklim dan kualitas udara memiliki hubungan yang semakin kuat. Kondisi cuaca ekstrem dapat meningkatkan risiko kebakaran, sementara kebakaran menghasilkan polutan yang memperburuk kualitas udara.
"Memenuhi pedoman kualitas udara Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) akan semakin sulit karena kondisi cuaca ekstrem yang memicu kebakaran diperkirakan akan meningkat pada masa mendatang," menurut laporan tersebut.
Gelombang Panas Juga Tingkatkan Risiko Polusi Ozon
Bukan hanya asap kebakaran yang menjadi perhatian WMO. Gelombang panas juga dapat memperburuk kualitas udara, terutama melalui peningkatan ozon di permukaan tanah.Suhu yang lebih tinggi, kondisi udara yang stagnan, dan paparan sinar matahari yang intens dapat mendorong pembentukan ozon di permukaan tanah.
WMO memperkirakan risiko kesehatan akibat ozon akan semakin meningkat. Kondisi tersebut berpotensi menyebabkan puluhan ribu kematian dini tambahan.
Dengan semakin seringnya gelombang panas dan kondisi cuaca ekstrem, pemantauan kualitas udara menjadi semakin penting, terutama di wilayah yang rentan terhadap kebakaran hutan.