Serangan drone dan rudal dari Iran dilaporkan melumpuhkan Bandara Internasional Dubai serta menghantam sejumlah hotel mewah dan bangunan ikonik di pusat kota.
Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan pihaknya terus berupaya mencegat proyektil yang masuk pada Senin (2/3) waktu setempat.
Di tengah situasi tersebut, UEA juga resmi menutup kedutaannya di Teheran menyusul eskalasi konflik regional yang kian meluas.
Eksodus kaum elit dan miliarder
Penutupan ruang udara memicu kepanikan, terutama di kalangan miliarder dan influencer yang masih berada di Dubai dan ingin pergi menyelamatkan diri.
| Baca juga: Iran Ancam Kirim Rudal ke Siprus untuk Usir Armada AS |
Sebagian dari mereka memilih menempuh perjalanan darat sekitar empat setengah jam menuju Oman untuk mencari penerbangan dari Bandara Muscat yang masih beroperasi secara terbatas. Tidak sedikit dari kaum elit yang rela menyewa jet pribadi.
Harga jet pribadi naik tiga kali lipat
Ketegangan di regional Timur Tengah juga membuat biaya jet pribadi melonjak drastis. JetVip, broker jet pribadi di Muscat, melaporkan kenaikan harga hingga tiga kali lipat.
Penerbangan ke Istanbul dengan jet kecil kini mencapai €85.000 atau sekitar Rp1,4 miliar. Sementara satu kursi carter menuju Moskow dibanderol €20.000 atau sekitar Rp340 juta per orang.
"Ketersediaan sangat tipis. Banyak operator pesawat menolak terbang karena kendala asuransi dan risiko keamanan," ujar perwakilan AlbaJet, perusahaan carter asal Austria.
Diketahui Iran membalas serangan gabungan AS-Israel dengan menargetkan pangkalan-pangkalan militer AS yang berada Uni Emirat Arab serta Qatar. Meski begitu, serangan Iran nyatanya juga menyasar pusat bisnis Dubai.
Kondisi ini membuat sebagian besar wisatawan ketakutan, dan bertahan di hotel menjadi satu-satunya opsi. Dinas Pariwisata Dubai menginstruksikan hotel agar tidak mengusir tamu yang terdampak dan memperpanjang masa inap dengan tarif awal.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News