Eks Kanselir Jerman Angela Merkel. Foto: Anadolu Agency
Eks Kanselir Jerman Angela Merkel. Foto: Anadolu Agency

Bukan Cuma Prabowo, Ini Daftar Pemimpin Dunia yang Pernah Jadi Target Penyadapan

Annisa ayu artanti • 04 November 2026 09:10
Ringkasnya gini..
  • SBY, Angela Merkel, dan tiga presiden Prancis pernah menjadi target pemantauan intelijen asing berdasarkan dokumen yang terungkap.
  • Penyadapan kepada SBY bukan hanya pada aktivitas pemerintahann tetapi komunikasi telepon seluler.
Jakarta: Penyadapan terhadap pejabat negara bukan hal baru dalam dunia intelijen. Sejumlah pemimpin dunia, mulai dari Presiden Prancis hingga Kanselir Jerman, pernah menjadi target pemantauan komunikasi oleh badan intelijen asing.

Kasus serupa juga pernah terjadi di Indonesia. Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menjadi sasaran pemantauan intelijen Australia pada 2009. 

Sementara itu, dugaan penyadapan ilegal terhadap sejumlah nomor telepon pejabat negara kembali menjadi sorotan setelah diungkap Bareskrim Polri pada November 2026.

Di luar Indonesia, ada sejumlah kasus penyadapan dan peretasan yang melibatkan pemimpin negara. Pengungkapannya berasal dari dokumen rahasia intelijen hingga investigasi media internasional.

1. Tiga Presiden Prancis Jadi Target Penyadapan NSA


Tiga presiden Prancis, yakni Jacques Chirac, Nicolas Sarkozy, dan François Hollande, pernah masuk dalam dokumen target pemantauan Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).

Merangkum laporan media investigasi Prancis Mediapart, pada 23 Juni 2015, Mediapart bersama WikiLeaks memublikasikan dokumen rahasia NSA yang mengungkap pemantauan komunikasi para pemimpin Prancis pada periode 2006-2012.

Tiga presiden yang disebut menjadi target penyadapan tersebut adalah:

- Jacques Chirac, Presiden Prancis periode 1995–2007.
- Nicolas Sarkozy, Presiden Prancis periode 2007–2012.
- François Hollande, Presiden Prancis periode 2012–2017.

Dokumen NSA yang dipublikasikan itu juga mengungkap pemantauan terhadap sejumlah pejabat tinggi Prancis, termasuk diplomat dan pejabat pemerintahan.
   

2. SBY Pernah Jadi Target Intelijen Australia


Penyadapan juga pernah terjadi terhadap Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Buntut dari penyadapan itu adalah hubungan antara Indonesia-Australia.

Kasus ini terungkap pada November 2013 setelah setelah ABC Australia dan The Guardian memublikasikan dokumen rahasia yang dibocorkan Edward Snowden, mantan kontraktor Badan Keamanan Nasional Amerika Serikat (NSA).

Penyadapan dilakukan bukan hanya pada aktivitas pemerintahann tetapi komunikasi telepon seluler SBY juga menjadi sasaran intelijen Australia, Defence Signals Directorate (DSD).

3. Ponsel Angela Merkel Diduga Dipantau NSA


Kanselir Jerman Angela Merkel juga pernah menjadi sasaran dugaan penyadapan oleh badan intelijen Amerika Serikat.

Pada Oktober 2013, muncul laporan bahwa NSA memantau ponsel Merkel. Pemerintah Jerman menyatakan telah menerima informasi bahwa ponsel kanselir kemungkinan dipantau badan intelijen Amerika.

Merkel kemudian berbicara langsung dengan Presiden Amerika Serikat Barack Obama. Ia menyampaikan keberatan apabila informasi tersebut terbukti benar.

Pemerintah Jerman bahkan mengeluarkan pernyataan resmi pada 24 Oktober 2013 yang meminta klarifikasi kepada pemerintah AS.

Kasus ini menjadi sorotan karena Jerman dan Amerika Serikat merupakan sekutu dekat. Dugaan pemantauan terhadap pemimpin negara sekutu pun memicu pertanyaan mengenai batas operasi intelijen antarnegara.

4. Emir Qatar Jadi Target Peretasan Project Raven


Sheikh Tamim bin Hamad Al Thani, Emir Qatar, juga pernah dilaporkan menjadi salah satu target operasi siber Uni Emirat Arab (UAE).

Pada 30 Januari 2019, Reuters mengungkap operasi intelijen bernama Project Raven. Operasi ini melibatkan mantan personel intelijen Amerika Serikat yang bekerja untuk UAE.

Dalam operasi tersebut, mereka menggunakan perangkat peretasan bernama Karma untuk mendapatkan akses ke iPhone milik sejumlah tokoh. Alat tersebut memungkinkan operator mengakses iPhone target melalui nomor telepon atau alamat email, tanpa mengharuskan korban mengeklik tautan.


Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan