Prediksi dilontarkan Professor Statistik dan sosiologi Universitas Washington, Amerika Serikat, Adrian Raftery. Dia memprediksi dengan metode statistik Bayesian. Data populasi terakhir milik Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang dirilis Juli lalu digabungkan bersama variabel lain.
"Berdasarkan perhitungan dalam 20 tahun terakhir, pertumbuhan penduduk bakal meningkat tajam hingga sembilan miliar dan pertumbuhan berhenti atau menurun setelahnya," kata Adrian sebagaimana dikutip AFP, Kamis (18/9/2014).
Namun, kepastian jumlah penduduk itu bisa saja berubah seiring perubahan tingkat harapan hidup dan kesuburan penduduk di berbagai kawasan. Perhitungan tersebut hanya proyeksi awal berdasarkan skenario yang terjadi selama ini.
Sebagian besar antisipasi pertumbuhan penduduk sudah dilakukan di Afrika. Diperkirakan penduduk Afrika hanya bertambah sedikit, dari satu miliar pada saat ini menjadi empat miliar pada akhir abad 21.
Namun, penelitian Adrian memprediksi pertumbuhan penduduk di benua tersebut bisa membludak menjadi 5,1 miliar. "Ada peluang 80% populasi di Afrika pada akhir abad ini akan menjadi antara 3,5 miliar dan 5,1 miliar orang," kata studi tersebut.
Pertumbuhan di Asia justru bisa ditekan. Jika saat ini penduduk mencapai 4,4 miliar, pada 2050 penduduk benua kuning disinyalir hanya lima miliar. Setelah itu pertumbuhan menyusut.
Penduduk di Amerika Utara, Eropa, Amerika Latin dan Karibia diperkirakan di bawah satu miliar di masing-masing wilayah.
Penelitian dibuat sebagai antisipasi untuk mengontrol tingkat kelahiran anak dan membludaknya populasi manusia. Sebab, lebih banyak orang di bumi kemungkinan memperburuk masalah seperti perubahan iklim, penyakit menular, dan kemiskinan.
"Populasi, yang bakal meruntuhkan agenda dunia, masih menjadi satu isu yang sangat penting," kata Adrian.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News