Warga Lebanon bergandengan tangan dan membentuk rantai manusia yang membentang dari Tripoli hingga Tyre, 27 Oktober 2019. (Foto: AFP/ALI DIA)
Warga Lebanon bergandengan tangan dan membentuk rantai manusia yang membentang dari Tripoli hingga Tyre, 27 Oktober 2019. (Foto: AFP/ALI DIA)

Demonstran Lebanon Bentuk 'Rantai Manusia' Sepanjang 170 KM

Internasional konflik lebanon
Arpan Rahman • 28 Oktober 2019 16:07
Beirut: Puluhan ribu demonstran Lebanon saling bergandengan tangan dan membentuk 'rantai manusia' yang membentang dari wilayah utara hingga selatan negara tersebut pada Minggu 27 Oktober 2019. Rantai ini disebut para pengunjuk rasa sebagai simbol persatuan nasional.
 
Dengan panjang sekitar 170 kilometer, 'rantai manusia' terbentang dari kota Tripoli hingga ke Tyre. Aksi ini merupakan mobilisasi massa lintas sektarian yang belum pernah terjadi sebelumnya di Lebanon.
 
Ketegangan antar pedemo dan aparat keamanan di Lebanon meningkat dalam beberapa hari terakhir. Para pengunjuk rasa memblokade banyak ruas jalan dan sempat membuat beberapa wilayah lumpuh demi mendorong tuntutan mereka, yakni perombakan total sistem politik Lebanon.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejumlah politisi Lebanon membela rencana menggelar reformasi paket ekonomi, dan juga terlihat siap merombak kabinet. Namun para pengunjuk rasa yang sudah berada di jalanan Lebanon sejak 17 Oktober menginginkan sesuatu yang lebih.
 
Dengan berjalan kaki, menaiki sepeda dan motor, para demonstran dan juga simpatisan beramai-ramai berderet dan bergandengan tangan di sepanjang jalan raya penghubung wilayah utara ke selatan Lebanon.
 
"Ide di balik rantai manusia ini adalah untuk memperlihatkan citra warga Lebanon yang menolak segala bentuk afiliasi sektarian," tegas Julie Tegho Bou Nassif, salah satu panitia acara, kepada AFP.
 
"Tidak ada permintaan politik hari ini. Kami hanya ingin menyampaikan pesan dengan bergandengan tangan di bawah bendera Lebanon," ujar seorang profesor ilmu sejarah yang berusia 31 tahun.
 
Di kawasan pesisir Beirut, pria, wanita dan anak-anak saling bergandengan tangan. Beberapa dari mereka membawa bendera nasional dan juga menyanyikan lagu kebangsaan.
 
Sementara di kota Tripoli -- lebih dari separuh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan -- ratusan demonstran menggambar simbol nasional negara di wajah mereka masing-masing.
 
"Kami mengekspresikan permintaan kami untuk mendapatkan kehidupan terhormat dan masa depan yang cerah," ucap Tariq Fadli, salah satu pemuda di Tripoli. Pemandangan serupa juga terlihat di kota Tyre.
 
Gerakan protes di Lebanon ini, yang berlangsung tanpa ada tokoh pemimpin, sebagian besar digerakkan generasi muda yang lahir usai perang sipil 1975-1990. Sejumlah pihak menilai aksi protes ini adalah peristiwa lahirnya identitas sipil Lebanon.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif