Ribuan keluarga di Idlib melarikan diri dengan menggunakan truk dan mobil ke arah utara Suriah, 24 Desember 2019. (Foto: AFP/AAREF WATAD)
Ribuan keluarga di Idlib melarikan diri dengan menggunakan truk dan mobil ke arah utara Suriah, 24 Desember 2019. (Foto: AFP/AAREF WATAD)

Idlib Terus Digempur, 235 Ribu Warga Melarikan Diri

Internasional krisis suriah suriah membara konflik suriah
Willy Haryono • 28 Desember 2019 10:27
Idlib: Lebih dari 235 ribu orang telah melarikan diri dari Idlib, sebuah provinsi di Suriah yang terus digempur pasukan pemerintah dan juga Rusia. Eksodus terjadi antara tanggal 12 dan 25 Desember.
 
Idlib merupakan benteng pertahanan terakhir sejumlah kelompok pemberontak yang menentang kepemimpinan Presiden Suriah Bashar al-Assad. Pasukan Suriah bersama Rusia bertekad merebut kembali provinsi tersebut.
 
Intensitas pengeboman di Idlib meningkat sejak akhir November. Menurut laporan agensi kemanusiaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (Ocha), peningkatan intensitas serangan kembali terjadi pada pertengahan Desember.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Puluhan ribu keluarga di Idlib -- termasuk yang sedang beberapa kali kehilangan tempat tinggal -- melarikan diri dengan menggunakan truk dan mobil ke arah utara.
 
Ocha mengatakan, gempuran pasukan Suriah telah membuat kota Maarat al-Numan dan area sekitarnya di Idlib selatan "hampir kosong." Sebagian besar warga kota tersebut pergi ke wilayah utara atau provinsi Aleppo.
 
"Banyak yang melarikan diri membutuhkan bantuan kemanusiaan, terutama tempat tinggal, makanan, kesehatan dan bantuan lainnya terkait urusan bertahan hidup di tengah musim dingin," ujar PBB, dikutip dari laman BBC, Jumat 27 Desember 2019.
 
Eksodus dari Idlib terkendala beberapa masalah, termasuk minimnya bahan bakar untuk kendaraan. Beberapa sopir juga menolak mengemudikan kendaraan karena khawatir terkena pengeboman.
 
"Ribuan keluarga takut bergerak karena khawatir terkena serangan udara sepanjang perjalanan," sebut PBB.
 
Gencatan senjata yang dinegosiasikan Rusia dan Turki telah menghentikan serangan udara di Idlib pada Agustus lalu. Namun gempuran berlanjut secara sporadis sejak saat itu di tengah tekad Assad merebut kembali Idlib.
 
September lalu, Kantor Komisioner Tinggi Hak Asasi Manusia PBB (OHCHR) telah memverifikasi lebih dari 1.000 kematian warga sipil di Suriah sejak April tahun ini. Kematian tersebut diakibatkan pertempuran antara pasukan Suriah melawan pemberontak.
 
Kamis kemarin, Presiden AS Donald Trump mendesak Rusia, Suriah dan Iran untuk menghentikan kekerasan di Idlib.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif