medcom.id, Hobart: Delegasi asal 24 negara dan Uni Eropa (UE) menyepakati Laut Ross di Antartika akan menjadi kawasan maritim terbesar di dunia yang dilindungi (MPA). Seluas 1,57 juta kilometer persegi dari samudera wilayah selatan akan dilindungi dari aktivitas penangkapan ikan selama 35 tahun.
Dilansir BBC, Jumat (28/10/2016), para pemerhati lingkungan menyambut langkah untuk melindungi apa yang disebut ekosistem laut paling asli di muka bumi. Mereka percaya kesepakatan ini akan menjadi yang pertama dari banyak zona serupa di perairan internasional.
"Pada pertemuan di Hobart, Australia, Komisi Konservasi Sumber Daya Kehidupan Laut Antartika (CCAMLR) sepakat dengan suara bulat menetapkan Laut Ross sebagai MPA, setelah bertahun-tahun perundingan yang berlarut-larut," demikian diumumkan Menteri Luar Negeri Selandia Baru Murray McCully.
Laut Ross yang memiliki sebuah beting landai hanya berkisar dua persen dari luas Samudra Selatan. Tetapi dunia satwa ini menjadi hunian bagi 38 persen penguin Adelie, 30 persen burung-burung laut khas Antartika dan sekitar 6 persen dari populasi paus minke Antartika.
Kawasan ini penting bagi kelangsungan planet tatkala meningkatnya nutrisi air laut dari perairan laut dalam dibawa arus ke seluruh dunia.
Laut Ross juga rumah bagi sejumlah besar krill (udang kecil seperti krustasea planktonik dari laut lepas), makanan pokok bagi spesies termasuk ikan paus dan anjing laut. Kandungan minyaknya sangat penting diasup ikan salmon buat berkembang biak. Namun ada kekhawatiran bahwa penangkapan ikan di perairan itu secara berlebihan dan perubahan iklim memiliki dampak signifikan pada jumlah mereka.
Usulan, yang diperkenalkan Selandia Baru dan Amerika Serikat (AS), diterima oleh semua negara lain, guna menentukan suatu perlindungan umum dalam zona "tidak boleh mengambil" di mana tidak ada yang bisa dipindahkan, termasuk kehidupan laut dan mineral.
Sebagai bagian dari kompromi yang muncul dalam negosiasi, akan terdapat zona khusus di mana penangkapan krill dan ikan monster gigi tajam akan diizinkan demi tujuan penelitian.
"Saya benar-benar gembira," kata Lewis Pugh dari lembaga Pelindung Samudera PBB, dan tokoh yang telah berkampanye selama bertahun-tahun mendukung MPA.
"Inilah kawasan lindung terbesar di darat dan laut, MPA skala besar yang pertama di laut lepas, di mana kehidupan mereka sebagian besar tidak terlindungi," imbuhnya.
Pugh telah menarik perhatian dunia ke Laut Ross lewat kegiatan berenang di perairan es -- dan selama dua tahun dia terlibat dalam serangkaian pertemuan. Ia dijuluki "penghitung kecepatan diplomasi" saat berunding dengan para pejabat Rusia untuk meyakinkan mereka tentang nilai MPA.
Di akhir perundingan tahun lalu, Negeri Beruang Merah adalah salah satu negara yang bersikukuh menentang konsensus di Laut Ross. Tapi tahun ini, Pugh menggambarkan Rusia sebagai "glasnost (keterbukaan) lingkungan."
Presiden Rusia Vladimir Putin telah merancang 2017 sebagai Tahun Ekologi dan negara itu baru-baru ini memperluas zona MPA di sekitar kepulauan Franz Josef Land di Kutub Utara.
"Rusia memiliki sejarah eksplorasi dan ilmu pengetahuan di Antartika yang membanggakan. Saat ini, di tengah turbulensi politik di banyak bagian dunia, kami senang menjadi bagian dari upaya internasional kolaboratif ini demi menjaga Laut Ross," kata Sergei Ivanov, Wakil Khusus Presiden Putin untuk Urusan Ekologi, menyambut kesepakatan baru ini.
Salah satu pertanyaan kunci dalam negosiasi adalah berapa lama MPA harus berlangsung. Tiongkok tercatat menyatakan yakin bahwa 20 tahun cukup panjang untuk memberlakukan MPA.
Banyak pakar lingkungan menyatakan durasi itu terlalu pendek, menimbang umur makhluk yang hidup di Laut Ross, seperti paus. Akhirnya, para pihak menyepakati MPA berlaku 35 tahun.
Penetapan itu disambut tidak hanya oleh juru kampanye, melainkan juga oleh orang-orang yang memiliki hubungan erat dengan Laut Ross.
"Keluarga Ross kini euforia karena warisan keluarga kami telah dihormati di ulang tahun ke-175 sejak James pertama kali menemukan Laut Ross," kata Phillipa Ross, cucu keturunan kelima dari generasi Sir James Clark Ross, nakhoda dan penjelajah Inggris yang namanya diabadikan menjadi Laut Ross.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News