"Saya akan mengundurkan diri pada Senin. Saya akan memberikan jabatan saya kepada pemimpin yang lebih muda dan dinamis, Pravind Jugnauth, yang memegang mayoritas di parlemen," ucap politikus veteran berusia 86 tahun itu, seperti dikutip AFP, Sabtu (21/1/2017).
Pada 2014, Anerodd terpilih untuk kali keenam sebagai PM, sekitar 22 tahun setelah pertama kali dipilih. Dia juga menjabat presiden dari 2003 ke 2012.
Pengunduran dirinya bukan merupakan kejutan karena pada September, ia mengisyaratkan tidak akan melanjutkan kepemimpinan.
Pravind Jugnauthh, menteri keuangan saat ini, juga merupakan pemimpin Gerakan Sosialis Militan (MSM), sebuah partai terbesar di koalisi pemerintahan Mauritius.
Menurut konstitusi Mauritius, Presiden Ameenah Gurib-Fakim akan bertanya kepada Pravind, 55, terkait apakah dirinya dapat membentuk sebuah pemerintahan saat ayahnya mundur.

Pravind Jugnauth. (Foto: Africa Times)
Dengan 41 dari 69 kursi di parlemen, koalisi MSM akan bertahan, meski empat menteri telah berkhianat dan menyeberang ke oposisi pada Desember atas masalah konstitusi.
Sejumlah orang meyakini Pravind tidak bisa mengambil jabatan sang ayah tanpa ada proses pemilihan umum. Kubu oposisi Mauritius menyebut penyerahan jabatan Anerood kepada Pravind tak bermoral, walau mengakui langkah semacam itu legal.
Beberapa tokoh meminta partai oposisi untuk bersatu menentang penyerahan jabatan. "Gerakan oposisi bersatu dibutuhkan untuk melawan kesombongan keluarga Jugnauth," kata kepala Partai Buruh, mantan PM Navin Ramgoolam.
"Saya mengundang semua partai oposisi untuk bergabung dalam protes dalam penyerahan kekuasaan dari ayah ke anak," tambah kepala oposisi Xavier-Luc Duval.
Mauritius adalah negara pulau multi etnis dengan jumlah penduduk 1,2 juta di lepas pantai Afrika. Mauritius merupakan satu-satunya negara dengan mayoritas Hindu di Afrika.
Negara tersebut pernah dijadikan koloni oleh Belanda pada abad ke-17, yang kemudian dikuasai Prancis dan Inggris sebelum akhirnya merdeka pada 1968.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News