Kematian Jurnalis Arab Saudi

Jaksa Turki dan Saudi Ribut Terkait Penyelidikan Khashoggi

Arpan Rahman 31 Oktober 2018 13:26 WIB
arab sauditurkiJamal Khashoggi
Jaksa Turki dan Saudi Ribut Terkait Penyelidikan Khashoggi
Warga berdoa untuk Jamal Khashoggi yang dibunuh di gedung Konsulat Arab Saudi di Turki. (Foto: AFP).
Istanbul: Jaksa Turki dan Arab Saudi bentrok dalam penyelidikan atas pembunuhan Jamal Khashoggi. Jurnalis Arab Saudi itu terbunuh di dalam konsulat negaranya sendiri di Istanbul, empat pekan lalu.
 
Jaksa Agung Saudi Saud al-Mujib, tiba di kota itu pada Senin untuk bergabung dengan penyelidikan bersama atas pembunuhan kolumnis Washington Post 59 tahun. Ia dilaporkan meminta semua bukti dalam kasus ini, termasuk rekaman dan kesaksian. Permintaan ini ditolak, menurut surat kabar Yeni Safak, yang dekat dengan Pemerintah Turki.
 
Sementara Arab Saudi terus mengesampingkan tuntutan Turki bahwa 15 tersangka diduga terlibat dalam perencanaan, eksekusi, dan menutupi pembunuhan diinterogasi dan diadili di Turki. Di Ankara, pada Selasa, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuntut kerjasama yang lebih besar dari Arab Saudi.
 
Ketidakpercayaan antara kedua negara mengintai di pusat perselisihan. Setelah menolak tanggung jawab atas nasib Khashoggi, Saudi mendesak dunia untuk bertanya kepada Turki apa yang terjadi atas dirinya. Riyadh mengubah cerita beberapa kali sebelum akhirnya mengakui pekan lalu bahwa Khashoggi terbunuh dalam sebuah plot terencana di dalam konsulat.
 
Jaksa penuntut Istanbul, Irfan Fidan, dikenal sebagai ahli hukum yang memburu para pesaing Putra Mahkota Muhammad bin Salman. Tahun lalu, Mujib memainkan peran dalam penuntutan atas kalangan ningrat kerajaan Saudi yang disekap di dalam Hotel Ritz Carlton di Riyadh.
Dikabarkan upaya putra mahkota untuk melakukan konsolidasikan kekuasaan dengan menggerogoti kekayaan kerajaan demi membiayai proyek ambisius dan gaya hidupnya yang mewah.
 
Turki mencurigai Arab Saudi akan mengaburkan keterlibatan putra mahkota dalam pembunuhan itu. Ketakutan Arab Saudi, Erdogan akan menggunakan kasus ini untuk melemahkan putra mahkota berusia 33 tahun tersebut.
 
Jalannya penyelidikan kemungkinan akan ditentukan melalui saluran-saluran hukum yang diplomatis dan tidak langsung. "Ini akan menjadi lebih masalah politik, dan masalah tentang hukum internasional," kata Hatice Han Er, kriminolog yang berbasis di Istanbul, seperti disitir dari Independent, Rabu 31 Oktober 2018.
 
Menurut hukum kriminal Turki, kejahatan yang dilakukan di wilayah Turki dapat dituntut di dalam negeri tersebut.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id