Pagar di wilayah perbatasan Kenya-Somalia hanya terbentang sepanjang 10 km. (Foto: BBC)
Pagar di wilayah perbatasan Kenya-Somalia hanya terbentang sepanjang 10 km. (Foto: BBC)

Habiskan Rp500 M, Pagar 10 KM di Kenya Dipertanyakan

Internasional kenya al-shabaab
Arpan Rahman • 16 Maret 2019 18:28
Nairobi: Parlemen Eropa mempertanyakan bagaimana bisa pagar perbatasan yang hanya terbentang sepanjang 10 kilometer menghabiskan biaya pembangunan hingga USD35 juta atau setara Rp500 miliar. Tembok itu terbentang di wilayah yang berbatasan dengan Somalia.
 
Pemerintah Kenya awalnya berjanji membangun tembok di perbatasan, dengan panjang hingga 700 km. Namun "tembok" tersebut, yang tujuan awalnya untuk mencegah pergerakan kelompok militan al-Shabab, ternyata berubah menjadi pagar kawat sepanjang 10 km.
 
Seperti dilansir dari laman BBC, Jumat 15 Maret 2019, pembangunan tembok, atau pagar, tersebut akhirnya ditunda. Parlemen Kenya meminta adanya investigasi terhadap proyek pembangunan tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat rencana pembangunan diumumkan pada 2014, pemerintah Kenya mengatakan akan membangun tembok sepanjang 708 km. Tembok itu terdiri dari penghalang beton, pagar, selokan dan pos pengawasan lengkap dengan kamera pengawas CCTV.
 
Di bawah rencana ini, tembok diproyeksikan membentang di sepanjang perbatasan Kenya dan Somalia hingga ke area Mandera.
 
Tujuan utama tembo adalah mencegah perdagangan manusia, imigran gelap dan juga pergerakan militan al-Shabaab dari Somalia.
 
Kenya dilanda serangkaian serangan mematikan yang dilancarkan al-Shabab -- termasuk pembantaian di Mandera pada Desember 2014. Kala itu, 36 orang tewas diserang. Pembangunan tembok perbatasan dimulai satu tahun setelahnya.
 
Berbicara di parlemen, sejumlah politikus Kenya mempertanyakan seefektif apa pagar kawat dalam menghalangi masuknya militan al-Shabab. Sejumlah politikus lain menduga adanya korupsi dalam proyek pembangunan, yang dilakukan pihak tertentu yang memanfaatkan ancaman dari militan al-Shabab.
 
John Mbadi, pemimpin minoritas di Majelis Nasional Kenya, mengatakan bahwa pembangunan tembok fisik adalah proyek yang hanya membuang-buang uang.
 
"Kenya seharusnya tidak mendanai konstruksi tembok semacam itu. Kenya seharusnya mengucurkan dana untuk teknologi pengumpulan data intelijen untuk membatasi terjadinya serangan al-Shabab," tegas Mbadi.
 
Selain menghentikan pembangunan pagar, parlemen Kenya juga meminta pemerintah menjelaskan 'larinya' jutaan dolar yang telah dihabiskan dalam proyek tersebut.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif