Dalam pidato yang disiarkan di televisi nasional, Sabtu (4/7/2015), Essebsi mengatakan status darurat ini berlaku hingga 30 hari ke depan. Status diterapkan setelah berkonsultasi dengan anggota parlemen dan perdana menteri.
"Langkah ini diterapkan karena adanya situasi setelah terjadinya serangan teroris terbaru dan ancaman nyata yang membuat negara ini menghadapi semacam peperangan tersendiri," ucap Essebsi, seperti dikutip AFP.
Status darurat ini, yang memberikan kekuasaan khusus kepada polisi dan tentara, pernah diterapkan selama tiga tahun hingga Maret 2014. Status diterapkan setelah terjadinya revolusi pascadigulingkannya Presiden Zine El Abidine Ben Ali.
Polisi telah mengidentifikasi pelaku pembantaian di pantai Port el Kantaoui sebagai Seifeddine Rezgui, pria 23 tahun yang menembakkan senapan Kalashnikov dan menewaskan 38 turis asing. Rezgui tewas ditembak petugas.
Serangan mematikan ini diklaim kelompok militan Islamic State (ISIS). Dari 38 korban tewas, 15 hingga 30 di antaranya adalah warga Inggris.
Menteri Dalam Negeri Inggris Theresa May yang mengunjungi lokasi bertekad "mengalahkan siapapun yang berusaha meruntuhkan kebebasan dan demokrasi" dan juga bersumpah bahwa "teroris tidak akan pernah bisa menang."
Pembantaian ini merupakan yang terburuk menimpa warga Inggris sejak pemboman di sistem transportasi London pada 2005.
Sementara bagi Tunisia, serangan kedua terhadap turis asing sepanjang tahun ini memicu gelombang kepulangan massal para wisatawan
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News