Presiden Haiti Jovenel Moise (empat kanan) menghadiri acara peringatan 10 tahun bencana gempa di Port-au-Prince, 12 Januari 2020. (Foto: AFP/CHANDAN KHANNA)
Presiden Haiti Jovenel Moise (empat kanan) menghadiri acara peringatan 10 tahun bencana gempa di Port-au-Prince, 12 Januari 2020. (Foto: AFP/CHANDAN KHANNA)

Haiti Peringati 10 Tahun Bencana Gempa

Internasional Haiti
Arpan Rahman • 13 Januari 2020 13:00
Port-au-Prince: Presiden Haiti Jovenel Moise memperingati 10 tahun bencana gempa bumi berkekuatan dahsyat yang menewaskan ratusan ribu orang. Lewat momen peringatan ini, Moise mengajak semua warga Haiti untuk bersatu di tengah kisruh politik yang menghambat pertumbuhan ekonomi.
 
Pada 12 Januari 2010, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,0 mengguncang Haiti, menghancurkan wilayah ibu kota Port-au-Prince, dan menewaskan lebih dari 200 ribu orang. Gempa juga melukai 300 ribu orang, dengan 1,5 juta lainnya kehilangan tempat tinggal hanya dalam hitungan 33 detik.
 
Berbicara di National Pantheon Museum di Port-au-Prince, Moise mengingatkan kembali bahwa warga Haiti merupakan pihak pertama yang memberikan pertolongan kepada sesama di tengah bencana. Warga Haiti juga yang pertama kali memberikan bantuan kemanusiaan, serta rela menggali puing-puing bangunan demi menyelamatkan sesama.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Hari ini, saat kita mengenang semua korban tewas, kita juga harus memberikan penghormatan kepada para relawan yang telah menjadi pahlawan sejati," kata Moise dalam pidatonya.
 
"Kita juga harus memberikan penghormatan kepada mereka yang bertahan hidup selama berjam-jam, bahkan berhari-hari di balik reruntuhan bangunan," tegasnya, disitat dari UPI, 12 Januari 2020.
 
Usai terjadinya gempa, banyak petani Haiti menawarkan bantuan kepada para tunawisma. Bantuan ditawarkan walau sebenarnya para petani juga hampir tidak memiliki apa-apa.
 
Banyak juga pemilik toko di Haiti yang menyumbangkan barang dagangan berupa makanan atau minuman ke para korban, terutama anak-anak.
 
Moise mengatakan meski Haiti mencitrakan diri sebagai negara yang tegar di tengah bencana, gelombang protes anti-pemerintah yang sering berujung kekerasan telah mencoreng citra negara. Ia menyebut banyak negara merasa ragu untuk membantu Haiti karena takut terkena imbas kekerasan.
 
Kepemimpinan Moise yang telah berlangsung selama hampir tiga tahun ternodai gelombang unjuk rasa berujung kekerasan. Para demonstran kesal karena harga makanan dan bahan bakar di Haiti terus meningkat.
 
Tidak hanya itu, pedemo juga geram karena tingkat inflasi di Haiti terus meroket di tengah maraknya praktik korupsi di jajaran pemerintah.
 
Meski intensitas gelombang protes anti-pemerintah di Haiti telah menurun sejak November lalu, beberapa demonstrasi sporasi masih tetap terjadi. Senin ini, Moise akan tetap berkuasa melalui sebuah dekrit saat sebagian besar masa jabatan politisi di Haiti berakhir.
 
Sedikitnya 107 entitas bisnis, serikat serta organisasi hak asasi manusia dan grup lokal lainnya di Haiti, telah menandatangani sebuah petisi yang mendesak agar Moise segera mengundurkan diri.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif