Selat Hormuz. (safety4sea)
Selat Hormuz. (safety4sea)

Iran Batasi Akses Selat Hormuz, 1.900 Kapal Terdampak

Adri Prima • 26 Maret 2026 20:38
Ringkasnya gini..
  • Sekitar 1.900 kapal komersial tertahan di Selat Hormuz sejak serangan AS dan Israel ke Iran, menyebabkan lalu lintas maritim di kawasan terhenti.
  • Iran membatasi akses selat bagi kapal terkait AS dan Israel, sementara kapal negara lain masih diizinkan melintas dengan syarat tertentu.
  • Penutupan selat berdampak pada pasar pelayaran global, memicu kenaikan tarif angkutan dan menahan jutaan barel minyak di atas kapal tanker.
Jakarta: Ribuan kapal komersial dilaporkan tertahan di kawasan Selat Hormuz, khususnya di Teluk Persia, sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan ke Iran pada 28 Februari 2026 lalu.
 
Sebagai bentuk respons, Teheran secara efektif membatasi jalur perairan strategis tersebut bagi kapal-kapal yang terkait dengan negara penyerang. Kondisi ini membuat lalu lintas maritim di kawasan tersebut praktis terhenti.
 
Pemerintah Iran menyatakan kapal dari negara selain Amerika Serikat dan Israel masih dapat melintas, dengan syarat tidak terlibat atau mendukung agresi terhadap Iran serta mematuhi aturan keselamatan dan keamanan.

Juru bicara komando terpadu angkatan bersenjata Iran dari Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Ebrahim Zolfaqari, mengatakan Iran telah mengubah aturan di selat tersebut dan situasi tidak akan kembali seperti sebelum perang. Ia menegaskan entitas yang terkait dengan Amerika Serikat dan Israel tidak memiliki hak untuk melintas.
 
Baca juga:
Daftar Negara yang Diizinkan Iran Melintasi Selat Hormuz
 

1900 kapal tanker tertahan


Berdasarkan data pelacak kapal real-time MarineTraffic pada periode 20 hingga 22 Maret, sekitar 1.900 kapal tidak dapat bergerak di sekitar Selat Hormuz.
 
Di antara kapal yang tertahan, terdapat sekitar 324 kapal curah, 315 kapal pengangkut minyak atau produk kimia, 267 kapal pengangkut produk minyak, serta 211 kapal tanker minyak mentah.
 
Perusahaan analisis Vortexa mencatat sekitar 190 juta barel minyak mentah dan produk minyak berada di atas kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut.
 
Selain itu, terdapat 177 kapal kargo umum, 174 kapal kontainer, 98 kapal pengangkut gas petroleum cair, 42 kapal pengangkut aspal atau bitumen, 37 kapal angkut berat, serta 34 kapal tanker LPG atau kimia. Sisanya terdiri dari berbagai jenis kapal lain seperti kapal Ro-Ro dan kapal pengangkut bahan bakar.
 
Perusahaan pelayaran Jerman, Hapag-Lloyd, melaporkan enam kapalnya tidak dapat beroperasi di Teluk Persia di tengah ketegangan yang berlangsung.
 
Direktur analisis maritim Baltic and International Maritime Council, Filipe Gouveia, mengatakan kepada Anadolu bahwa dampak penghentian lalu lintas maritim terhadap pasar pelayaran dan tarif angkutan akan bergantung pada sejumlah faktor.
 
Ia menyebut perkembangan harga bahan bakar, durasi penutupan selat, serta jumlah kapal yang diizinkan Iran untuk melintas akan menjadi faktor penentu. Ketegangan di kawasan juga mendorong kenaikan tarif angkutan, terutama di pasar kapal tanker.
 
Ia menambahkan sejak 27 Februari, Baltic Dirty Tanker Index meningkat 49 persen dan Baltic Clean Tanker Index naik 78 persen hingga 20 Maret. Tarif angkutan di pasar kontainer juga mengalami lonjakan. 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan