Pelarangan WNI oleh Israel dan Hak Berziarah di Yerusalem
Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia A.M Fachir. (Foto:Medcom/Fajar Nugraha)
Jakarta: Media Timur Tengah Middle East Monitor melaporkan bahwa Israel melarang masuk warga negara Indonesia untuk masuk ke negara mereka. Hal ini disampaikan oleh Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Israel Emmanuel Nahshon pada 23 Mei 2018.

Pernyataan ini dikeluarkan sebagai respons Israel atas sikap keras Indonesia yang mengecam penyerangan prajurit Israel terhadap warga Palestina di Gaza. Saat itu warga Gaza memperingati 70 hari Nakba, ketika sekitar satu juta warga Palestina diusir dari rumah untuk membentuk negara Israel.

Tindakan keras Israel saat peringatan itu menyebabkan 65 warga Palestina tewas dan sekitar 3.244 terluka. Hal ini yg dikecam oleh Indonesia dan memicu pelarangan masuknya WNI ke Israel, padahal Indonesia tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.


Pelarangan ini ditujukan kepada pemegang paspor WNI per 9 Juni 2018.

“Pertama kita tahu ada langkah tersebut, tetapi kita juga harus maklumi bahwa setiap negara punya kebijakan terkait pemberian fasilitas visa memberikan atau tidak memberikan,” ujar Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia A.M Fachir, di Hotel Borobudur, Jakarta, 31 Mei 2018.

“Semua memiliki kebijakan untuk menentukan langkah atau keputusan pemberian visa,” imbuh Wamenlu Fachir.

Hal ini senada dengan yang disampaikan oleh Juru Bicara Kemenlu RI Arrmanatha Nasir kepada Medcom.id pada Rabu 30 Mei 2018. Menurutnya setiap negara memang memiliki Kebijakan visa masing-masing dan Indonesia jelas tidak memiliki hubungan diplomasi dengan Israel.

Sementara Wakil Menlu Palestina Tasyir Jaradat menegaskan aturan dari Israel itu tidak dapat dibenarkan.

“Palestina sangat senang ketika WNI bisa berkunjung ke tanah Yerusalem dan ziarah di sana. Pada dasarnya peraturan Israel itu tidak benar dan tidak terima itu,” tutur Wamenlu Jaradat di Hotel Borobudur.

“Ini adalah hak para turis yang ziarah ke situs suci. Kami juga akan berusaha semksimal mungkin menyelsaikan masalah ini dan mengembalikan seperti semula,” tegasnya.

Sebelumnya Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyebutkan  bahwa Yerusalem adalah kota suci milik umat Yahudi, Kristiani dan Muslim. Meskipun belum tahu kebenaran berita ini, Menag mengharapkan larangan tidak dilakukan oleh Israel.

Israel harus memahami bahwa Yerusalem merupakan kota suci bagi penduduk dunia. Menurut Lukman, setiap penduduk dunia seharusnya memiliki hak yang sama mengunjungi tempat suci dan tidak boleh ada larangan untuk melakukan ziarah.

 



(WAH)