medcom.id, Freetown: Sedikitnya 312 orang tewas dan lebih dari 2.000 lainnya kehilangan tempat tinggal dalam musibah banjir lumpur di Freetown, ibu kota dari Sierra Leone, Senin 14 Agustus 2017.
Seorang jurnalis AFP melihat beberapa rumah yang terendam air bercampur lumpur di desa Regent. Ia juga menyaksikan sejumlah jasad manusia yang mengambang di area Lumley West.
Juru bicara Palang Merah Patrick Massaquoi mengatakan kepada AFP jumlah korban tewas sejauh ini 312. Ia khawatir jumlahnya terus bertambah seiring pergerakan tim pencari ke beberapa area terdampak bencana.
Berdasarkan indikator Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Sierra Leone adalah salah satu negara termiskin di dunia
"Saya menghitung ada lebih dari 300 jasad, dan mungkin akan terus bertambah," ujar Mohamed Sinneh, seorang staf urusan pemakaman di Rumah Sakit Connaught.
Presiden Ernest Bai Koroma mengatakan dalam pidatonya di televisi bahwa pusat respons darurat telah didirikan di Regent, area yang paling parah terkena banjir.
Ia menyerukan masyarakat untuk tetap bersatu di tengah musibah, di negara yang masih berjuang bangkit dari kengerian masa lalu akibat penyakit ebola dan perang sipil.
"Sekali lagi negara kita dilanda kesedihan. Banyak sahabat kita kehilangan nyawanya, dan banyak juga yang terluka. Banyak properti hancur disapu banjir dan longsor di beberapa bagian kota kita," tutur Koroma.
"Setiap keluarga, setiap grup etnis, setiap wilayah, terkena dampak musibah ini, baik secara langsung atau tidak," lanjut dia.
Koroma menjanjikan pembuatan pusat-pusat respons darurat di seantero Freetown untuk mendata para korban banjir. Ia juga kesigapan militer, polisi dan relawan Palang Merah dalam bencana kali ini.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
FOLLOW US
Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan