Klaim tersebut dilaporkan oleh media Israel, N12 yang menyebut serangan yang dilancarkan dilakukan 'cepat dan terukur'. Operasi tersebut diklaim sebagai hasil perencanaan matang dengan eksekusi presisi tinggi.
Sejumlah media Israel lainnya turut menyoroti detail perencanaan operasi yang disebut telah disiapkan secara menyeluruh. Koordinasi intensif antara militer Israel dan Amerika Serikat disebut menjadi salah satu faktor kunci, selain tingkat akurasi intelijen yang dinilai tinggi dalam pelaksanaan serangan.
Namun, analis pertahanan Yoav Limor dalam tulisannya di Israel Hayom mengingatkan adanya potensi perbedaan pandangan antara Washington dan Tel Aviv.
"Israel memiliki kesabaran dan kesiapan untuk melanjutkan perang ini selama beberapa hari atau minggu, bahkan mungkin lebih lama," katanya.
| Baca juga: Ali Khamenei Tewas, Iran Umumkan 40 Hari Masa Berkabung |
Akan tetapi menurutnya, tidak jelas apakah Trump memiliki tingkat kesabaran dan ketenangan yang sama.
Pandangan senada juga disampaikan jurnalis senior Nahum Barnea di Yedioth Ahronoth. "Bagi Amerika, ini adalah perang pilihan, tetapi bagi Israel ini adalah perang kebutuhan," tulisnya.
Meski Presiden AS, Donald Trump, sejauh ini menunjukkan dukungan penuh terhadap Israel, ia juga mengingatkan kemungkinan berubahnya opini publik di Amerika Serikat terhadap sekutu utamanya tersebut, terutama apabila konflik berlangsung lama dan berdampak luas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News