Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (Foto: AFP)
Presiden Palestina Mahmoud Abbas. (Foto: AFP)

Palestina akan Putus Semua Hubungan dengan AS dan Israel

Internasional palestina israel
Marcheilla Ariesta • 02 Februari 2020 13:08
Kairo: Presiden Palestina Mahmoud Abbas mengumumkan akan segera memutuskan semua hubungan dengan Israel dan Amerika Serikat. Ini merupakan bentuk protes Palestina terhadap rencana perdamaian Timur Tengah yang dibuat Presiden AS Donald Trump.
 
"Kami telah memberitahu Israel dan Amerika mengenai keputusan ini melalui dua surat," kata Abbas dalam pidato pada pertemuan darurat para menteri luar negeri Liga Arab di Kairo, Mesir, dilansir dari Jerusalem Post, Minggu 2 Februari 2020.
 
Abbas mengatakan surat pertama dikirim ke Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Sementara surat kedua diserahkan pada direktur Agensi Intelijen Pusat (CIA).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami memberitahu mereka bahwa Israel telah membatalkan perjanjian yang ditandatangani dengan Palestina, dan melanggar legitimasi internasional yang menjadi dasar perjanjian ini," tutur Abbas.
 
Karenanya, imbuh dia, Palestina menegaskan bahwa tidak akan ada lagi hubungan dengan Israel dan AS di segala bidang. "Termasuk hubungan keamanan, mengingat mereka mengabaikan perjanjian yang ditandatangani," sebut Abbas.
 
Kantor perdana menteri Israel belum mengomentari keputusan Abbas tersebut. Namun, ketua Partai Biru dan Putih, Benny Gantz, menilai Abbas saat ini masih terjebak masa lalu.
 
"Waktunya telah tiba untuk mulai bekerja atas nama generasi masa depan dan perdamaian, bukan terjebak di masa lalu dan mencegah masa depan yang penuh harapan bagi seluruh wilayah," tuturnya.
 
Sebelum berbicara di hadapan para menlu, Abbas sempat bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi dan berdiskusi mengenai dampak dari rencana Trump. Abbas membenarkan bahwa dirinya menolak menerima panggilan telepon dan surat-surat dari Trump sebelum pengumuman rencana perdamaian di Washington.
 
"Jika Anda ingin membuat kesepakatan, saya harus menjadi mitra pertama Anda. Saya menolak panggilan telepon Trump, saya juga menolak surat darinya," seru Abbas.
 
Menurut dia, penolakan dilakukan karena rencana perdamaian Trump bertentangan dengan perjanjian internasional.
 
Dalam rencana yang disampaikan Trump, AS mendukung Yerusalem sebagai "ibu kota seutuhnya" Israel. Padahal, Palestina memandang Yerusalem Timur sebagai ibu kota mereka di masa mendatang.
 
Tidak hanya itu, rencana perdamaian Timur Tengah ala Trump juga membiarkan Israel menganeksasi sejumlah permukiman di Tepi Barat yang merupakan milik Palestina.
 
Rencana Trump memaparkan sebuah visi mengenai status negara berdaulat Palestina di masa mendatang. Disebutkan bahwa Palestina nantinya bisa menjadi sebuah negara jika bisa memenuhi sejumlah syarat.
 
Salah satu syaratnya adalah Palestina tidak boleh memiliki kekuatan militer, atau istilah lainnya demiliterisasi.
 
Berdiri di podium Gedung Putih pada Selasa 28 Januari, Trump mencoba menyampaikan visinya mengenai Palestina dan Israel di masa mendatang. Menurutnya, rencana investasi senilai USD50 miliar atau setara Rp681 triliun dapat menghapuskan penderitaan masyarakat Palestina, dan di waktu yang bersamaan tetap menjamin sektor keamanan Israel.
 
Mengkritik rencana perdamaian yang disusun beberapa pemerintahan AS terdahulu, Trump menyebut versinya memiliki 80 halaman dan juga meliputi sebuah peta posisi negara Israel dan Palestina di masa mendatang.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif