PM Netanyahu (kanan) berbicara dengan John Bolton (tengah) dan Dubes AS untuk Israel David Friedman di Jordan Valley, 23 Juni 2019. (Foto: AFP/EPA POOL/ABIR SULTAN)
PM Netanyahu (kanan) berbicara dengan John Bolton (tengah) dan Dubes AS untuk Israel David Friedman di Jordan Valley, 23 Juni 2019. (Foto: AFP/EPA POOL/ABIR SULTAN)

Israel Pertimbangkan Rencana Perdamaian Timteng Versi AS

Internasional amerika serikat palestina israel
Willy Haryono • 24 Juni 2019 11:00
Tel Aviv: Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengaku siap "mempertimbangkan" rencana perdamaian Timur Tengah yang dirancang Amerika Serikat untuk mendamaikan Israel dengan Palestina.
 
Rencana perdamaian tersebut beberapa kali disebut Presiden AS Donald Trump akan menjadi "Perjanjian Terhebat Abad Ini."
 
"Kami akan mempertimbangkan proposal Amerika secara adil dan terbuka," kata PM Netanyahu saat menjamu kehadiran Penasihat Keamanan AS John Bolton.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Palestina telah menolak rencana perdamaian tersebut, dengan mengatakan AS telah bersikap "bias" usai mengakui Yerusalem sebagai ibu kota dari Israel.
 
"Saya tidak mengerti bagaimana bisa Palestina menolak rencana tersebut bahkan sebelum melihat apa isinya," tutur PM Netanyahu, dikutip dari AFP, Minggu 23 Juni 2019.
 
"Menurut saya, sikap seperti itu tidak baik untuk perkembangan ke depannya," sambung dia, yang berbicara di Jordan Valley bersama Bolton.
 
Jordan Valley adalah salah satu wilayah pendudukan Israel. PM Netanyahu menegaskan Israel tidak akan melepaskan wilayah tersebut.
 
"Kepada mereka yang bilang bahwa Israel harus pergi dari Jordan Valley, saya tegaskan lagi: hal tersebut tidak akan mendatangkan perdamaian, namun perang dan teror," tegasnya.
 
Gedung Putih mengatakan Bolton bertolak ke Jordan Valley untuk bertemu PM Netanyahu dan membicarakan isu "keamanan regional." Kunjungan Bolton dilakukan di tengah ketegangan antara AS dengan Iran.
 
Pekan depan, AS untuk kali pertama akan mengumumkan beberapa detail mengenai perjanjian damai Timur Tengah yang diformulasikan penasihat sekaligus menantu Trump, Jared Kushner.
 
Sejumlah pejabat AS mengatakan rencana perdamaian Timur Tengah bertujuan menggalang dana hingga USD50 miliar atau setara Rp707 triliun dan menciptakan lebih dari satu juta lapangan pekerjaan untuk warga Palestina dalam kurun waktu satu dekade.
 
Namun Otoritas Palestina memboikoit acara seminar mengenai perjanjian damai tersebut yang digelar di Bahrain. Palestina menuduh Trump hanya berusaha 'membeli' mereka dan tidak berniat membantu mewujudkan negara independen.
 
Baca:Menantu Trump Sebut Palestina Layak Tentukan Nasib Sendiri
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif