12 ABK WNI Telantar di Senegal Menunggu Dipulangkan
Keadaan Yan Cahaya dan teman-temannya ketika masih tidur di jalanan Senegal. (Foto: Yan Cahaya)
Jakarta: Setidaknya 12 Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Indonesia masih terlantar di sebuah penampungan berupa asrama atlet basket di Senegal. Mereka menunggu untuk dipulangkan ke Tanah Air. 

Namun, hingga hari ini, janji dari perusahaan tempat mereka bekerja tersebut tak kunjung didapatkan. Sudah satu bulan lebih mereka terlantar di Dakar.

Sementara lima ABK WNI lainnya sudah dipulangkan perusahaan tempat mereka bekerja, ke Indonesia. 


Kepada Medcom.id, seorang ABK WNI bernama Yan Cahaya menceritakan keadaan dirinya dan kesebelas rekannya. Yan mengaku, mereka bisa tidur di penampungan sebuah asrama atlet basket dengan bantuan KBRI Dakar.

"KBRI Dakar yang membawa kami ke sini. Sebelumnya, kami tinggal di jalanan. Pakai kardus. Barang-barang kami dicuri sama warga sini. Kami ditemukan pihak KBRI Dakar sudah tidak punya apa-apa," kata Yan melalui sambungan telepon kepada Medcom.id, Senin 24 September 2018.

"Kami dijanjikan akan pulang bulan ini oleh perusahaan. Tapi sampai saat ini tidak ada kabar. Saya hubungi tempat saya bekerja, PT BAS, tapi mereka enggak menanggapi," lanjut Yan.

Selama di penampungan, Yan dan teman-temannya bergantung kepada KBRI Dakar yang menyuplai makanan. Menurut penuturan Yan, setiap empat atau lima hari sekali, ada staf KBRI Dakar yang datang untuk mengisi persediaan makanan. 

Yan, yang berasal dari Tegal, sudah tiga bulan bekerja sebagai ABK WNI kapal berbendera Tiongkok yang mencari ikan di pinggiran laut Gambia.

"Kami kaget karena ketika dari Indonesia diterbangkan ke Senegal, lalu lihat kapalnya, kapalnya kecil sekali. Bukan kapal yang besar untuk berlayar di laut lepas," tutur dia.

Rasa takut Yan ternyata terbukti. Kapal tersebut hanya berlayar di pinggir laut Gambia. Jika kapal ini melewati batas, mereka semua akan ditangkap otoritas setempat. Yan dan rekan-rekannya hanya berlayar tiga bulan lalu kembali ke Dakar.

"Saat di kapal, kami juga disiksa. Kami disuruh angkut-angkut barang yang bukan tugas kami. Makan cuma dikasih satu kali sehari dan setiap hari harus makan daging babi," ucapnya.

Sebelumnya, perusahaan tempat Yan bekerja yaitu PT BAS yang berkantor di Tegal, Jawa Tengah, memutus kontrak kerja Yan beserta kontrak kerja teman-temannya saat mereka menagih janji kapan akan dipulangkan ke Indonesia. 

Saat ini, ucap Yan, ada salah satu ABK WNI yang menderita depresi yang tinggal di penampungan bersama dia. Yan berharap, Pemerintah Indonesia, lewat KBRI Dakar bisa membantu mempercepat pemulangan dirinya ke Indonesia.



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id