Amir Ali Hajizadeh, Kepala Pasukan Dirgantara IRGC. (Foto: AFP/Getty Images)
Amir Ali Hajizadeh, Kepala Pasukan Dirgantara IRGC. (Foto: AFP/Getty Images)

IRGC: Nyawa Trump Tidak Cukup Balas Kematian Soleimani

Internasional as-iran Qassem Soleimani Garda Revolusi Iran
Arpan Rahman • 07 Januari 2020 16:07
Teheran: Seorang petinggi Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC) mengatakan bahwa nyawa Presiden Amerika Serikat Donald Trump tidak cukup untuk membalaskan dendam atas kematian jenderal Qassem Soleimani. Soleimani, tokoh yang dikagumi di Iran dan juga Irak, tewas dalam serangan udara AS pada Jumat 3 Januari.
 
"Bahkan membunuh Trump pun belum cukup untuk membalaskan dendam. Satu-satunya yang dapat membayar setimpal kematian Soleimani adalah mengusir Amerika secara menyeluruh dari kawasan," ujar Amir Ali Hajizadeh, Kepala Pasukan Dirgantara IRGC.
 
Minggu 5 Januari, parlemen di Baghdad meloloskan sebuah resolusi yang tak mengikat mengenai seruan agar semua pasukan asing angkat kaki dari tanah Irak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Trump akan melihat hasil dari petualangannya selama ini di kawasan," kata Wakil Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi, mengutip suara warga Irak, disitir dari Daily Mirror, Senin 6 Januari 2020.
 
Dalam beberapa ketegangan sebelumnya, Iran sering mengatakan akan memilih waktu dan tempat yang tepat untuk melancarkan aksi balasan.
 
Trump mengklaim kematian Soleimani diperlukan demi menghentikan perang, bukan memulainya. Kematian Soleimani ditambah pernyataan Trump membuat Iran semakin berang.
 
Alih-alih meredakan ketegangan, Trump justru mengaku siap menyerang 52 target di Iran, termasuk beberapa situs budaya. Trump mengatakan 52 adalah angka yang sama dengan jumlah staf Kedubes AS yang ditahan selama 444 hari usai revolusi Iran. Trump menegaskan 52 target itu akan dihancurkan jika Amerika atau aset-asetnya diserang.
 
Sementara itu di Irak, kelompok milisi Irak yang tergabung dalam Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) memperingatkan AS bahwa "semua opsi balas dendam masih terbuka lebar.
 
Sejumlah faksi dalam PMF yang didukung Iran juga mengancam akan "memulangkan prajurit Amerika dalam peti mati" jika warga AS tidak mendesak pemerintah mereka dalam menarik semua personel militer dari Irak.
 
Pernyataan PMF terucap usai Perdana Menteri Irak Adel Abdul Mahdi mengatakan kepada Duta Besar AS bahwa Washington harus mau bekerja sama demi mencegah terjadinya "perang terbuka" dengan Iran.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif