Warga sipil Suriah menyelamatkan diri saat Turki memulai serangan ke basis wilayah Kurdi. Foto: AFP
Warga sipil Suriah menyelamatkan diri saat Turki memulai serangan ke basis wilayah Kurdi. Foto: AFP

Relawan Wanita Inggris Mengungsi saat Turki Serang Kurdi

Internasional turki Turki serang Kurdi
Arpan Rahman • 10 Oktober 2019 19:07
Ras al-Ain: Relawan Inggris dengan warga Kurdi di Suriah menggambarkan situasi kacau di perbatasan Turki pada Rabu. Ketika warga sipil ramai-ramai melarikan diri dari serangan militer Turki.
 
Lizzie Irvine, asal Skotlandia, berbicara dari kota Ras al-Ain, yang telah menjadi fokus serangan Turki di Suriah utara yang dikuasai Kurdi.
 
"Sejak pukul 16:00, peluru artileri telah jatuh di kota Hasakah. Ada asap, asap membubung di atas kota," kata wanita 30 tahun. Ia anggota bagian dari kampanye Women Defend Rojava, berbicara melalui telepon. Rojava adalah nama yang diberikan oleh Kurdi untuk wilayah otonom mereka di timur laut Suriah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sedikitnya lima warga sipil dan tiga pejuang Kurdi dilaporkan tewas dalam serangan itu, yang melanda beberapa posisi di sepanjang perbatasan. Turki mengatakan pihaknya juga telah melintasi perbatasan dan memulai invasi darat ke Suriah utara.
 
Turki sudah siap memasuki Suriah timur laut sejak pasukan Amerika Serikat, yang telah berperang dengan pasukan pimpinan Kurdi melawan Islamic State (ISIS), mulai pergi dalam perubahan kebijakan mendadak oleh Presiden AS Donald Trump, yang semalam menggambarkan serangan Turki sebagai ‘ide buruk’.
 
Penarikan itu dikritik di Washington sebagai pengkhianatan atas sekutu Kurdi Amerika.
 
Rabu malam, Menlu Inggris Dominic Raab mengatakan dia "dilanda kekhawatiran serius tentang tindakan militer sepihak yang telah diambil Turki. Ini berisiko mengganggu kestabilan wilayah, memperburuk penderitaan kemanusiaan, dan merusak kemajuan yang dilakukan terhadap ISIS yang seharusnya menjadi fokus kita bersama."
 
Raab menegaskan Inggris akan menolak rencana pengungsi Suriah untuk dikembalikan ke zona aman. Serangan militer Turki, dijuluki "Operation Peace Spring", dibuka dengan serangan udara. Tembakan howitzer Turki kemudian menghantam pangkalan-pangkalan dan depot amunisi dari milisi Kurdi YPG. Sementara pemberontak Arab Suriah siap mendukung pasukan Turki.
 
"Ada banyak kekacauan dan kebingungan, orang-orang takut. Mereka pergi dan melarikan diri ke tempat yang aman, pindah ke mana saja (mereka pikir tidak akan menjadi sasaran), kebanyakan dari mereka ke kota-kota seperti Tel Temir atau Hasakah di mana mereka memiliki kerabat. Ada iring-iringan panjang mobil dengan kolom asap membumbung di atasnya," tutur Irvine.
 
Irvine dianggap satu-satunya warga Inggris di garis depan, meskipun sejumlah relawan internasional diyakini berjuang bersama dengan Unit Perlindungan Rakyat (YPG).
 
"Setiap orang memiliki banyak pertanyaan tentang apa yang akan terjadi. Orang-orang mengatakan mereka benar-benar datang kali ini (setelah berbulan-bulan ancaman), kami benar-benar takut. Perang berkobar di sini," serunya, disitir dari Daily Telegraph, Kamis 10 Oktober 2019.
 
"Pasukan (YPG) yang telah siaga sekarang bergerak. Anda dapat melihat organisasi di masyarakat juga, orang-orang telah siap untuk membalas. Tetapi sebagian besar ada rasa takut. Saya saat ini berada di belakang mobil yang berusaha melarikan diri dari kota, tetapi kita tidak jelas mobil siapa yang lebih dulu dan masih ada kesopanan 'kamu dulu, tidak, aku bersikeras'," tegas Irvine.
 
Pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berpusat di Inggris mengatakan, yang tewas dalam serangan itu termasuk dua orang di Kota Qamishli dan seorang suami serta istri dan anak mereka, dan seorang anak lain di sebuah desa di sebelah barat Qamishli.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif