Prajurit Prancis mencari bom rakitan IED dalam patroli di Burkina Faso, 12 November 2019. (Foto: AFP/MICHELE CATTANI)
Prajurit Prancis mencari bom rakitan IED dalam patroli di Burkina Faso, 12 November 2019. (Foto: AFP/MICHELE CATTANI)

Enam Prajurit Tewas dalam Serangan di Burkina Faso

Arpan Rahman • 29 Januari 2020 12:00
Kompienga: Enam prajurit tewas dan beberapa lainnya hilang dalam serangan ekstremis di Burkina Faso, Selasa 28 Januari 2020. Serangan terjadi beberapa hari usai pembantaian di desa Silgadji menewaskan puluhan orang.
 
Seorang sumber keamanan mengatakan, sebuah mobil patroli militer Burkina Faso terkena ledakan bom rakitan (IED) dalam perjalanan dari Madjoari menuju Pama di provins Kompienga. "Enam tewas dalam serangan," ucap sumber tersebut, dikutip dari laman AFP.
 
Setelah mobil patroli terkena ledakan, sekelompok ekstremis menembaki para prajurit Burkina Faso. "Beberapa tentara dinyatakan hilang usai serangan," kata seorang sumber lainnya.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Akhir pekan kemarin, tepatnya Sabtu 25 Januari, sekelompok ekstremis menyerang desa Silgadji di provinsi Soum. Korban tewas dalam serangan tersebut diperkirakan mencapai 50 orang.
 
Menghubungi AFP, seorang warga Silgadji mengatakan bahwa para penyerang masih ada di area sekitar desa pada Senin 27 Januari.
 
"Para teroris mengepung masyarakat di pasar desa. Mereka kemudian membagi masyarakat ke dalam dua kelompok. Para pria dieksekusi, sementara yang wanita diminta untuk meninggalkan desa," tutur warga tersebut.
 
Pasukan keamanan Burkina Faso berusaha mendekati desa Silgadji. Namun karena akses menuju desa diperkirakan dipenuhi banyak bom IED, pasukan Burkina Faso bergerak secara perlahan demi menghindari jatuhnya korban jiwa.
 
Berlokasi di jantung kawasan Sahel di ujung Sahara, Burkina Faso merupakan salah satu negara termiskin di dunia. Militernya tidak memiliki banyak senjata, dan para prajuritnya juga minim pelatihan.
 
Serangan di Burkina Faso biasanya berlangsung cepat, yang dilakukan sekelompok militan bersepeda motor. Biasanya serangan terjadi di area pasar.
 
Terdapat 4.500 personel militer Prancis yang dikerahkan ke Sahel, yang kini sudah didukung pesawat tanpa awak atau drone bersenjata. Prancis dan juga pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) hadir untuk membantu "G5 Sahel," grup anti-teror lima negara yang terdiri atas Burkina Faso, Chad, Mali, Mauritania dan Niger.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif