Aksi militer, Rabu 15 November, memicu spekulasi kudeta. Pemimpin Asosiasi Veteran Perang Zimbabwe (ZNLWVA) mengatakan kepada ITV News bahwa militer telah menyingkirkan Mugabe.
Seorang juru bicara untuk Presiden Afrika Selatan Jacob Zuma mengatakan sudah berbicara dengan Mugabe, yang mengkonfirmasi kepadanya bahwa dia "dikurung di rumahnya".
Seteru politik Mugabe dan mantan perdana menteri Morgan Tsvangirai kini kembali ke Zimbabwe, menurut Sky News. Saat ini, para politisi melihat celah mengisi kekosongan yang terjadi akibat penahanan presiden.
(Baca: Situasi Tak Jelas, Tank Penuhi Ibu Kota Zimbabwe).
Tentara bersenjata dalam tank-tank lapis baja memposisikan diri mereka pada titik-titik penting di Harare. Sementara warga Zimbabwe membentuk anteran panjang di kantor-kantor bank buat menarik dana terbatas yang tersedia, pemandangan biasa dalam krisis keuangan yang sedang berlangsung di negara ini.
Banyak warga di Harare terus menjalani kehidupan sehari-hari, meski di sela kehadiran militer yang banyak.
Felix Tsanganyiso, yang menjual kartu isi-ulang ponsel di Harare, mengaku mengikuti perkembangan lewat WhatsApp.
"Saya masih buta tentang apa yang terjadi, sejauh ini bagus, kami akan bisa bekerja tanpa kekerasan," katanya.
"Permohonan saya adalah siapapun yang mengambil alih harus memilah ekonomi. Kami bosan hidup seperti ini," cetusnya seperti dilansir ITV News, Kamis 16 November 2017.
(Baca: Mugabe dalam Kondisi Aman, Militer Bantah Lakukan Kudeta).
Berpidato kepada publik setelah menguasai stasiun Zimbabwe Broadcasting Corporation, seorang juru bicara militer mengatakan tentara menargetkan "penjahat" di sekitar Mugabe. Seraya berusaha meyakinkan seluruh negara bahwa urusan tersebut akan beres.
Pernyataan tersebut, dibacakan Mayor Jenderal S.B. Moyo, mengatakan: "Kami ingin meyakinkan negara bahwa kemuliaan presiden dan keluarganya aman dan sehat serta keamanan mereka terjamin."
"Kami hanya menargetkan penjahat di sekitar beliau yang melakukan kejahatan, yang menyebabkan penderitaan sosial dan ekonomi di negara ini," lanjutnya.
"Begitu misi kami selesai, kami berharap situasinya akan kembali normal," tegasnya.
Militer kudeta Mugabe?
Chris Mutsvangwa, kepala ZNLWVA yang berpengaruh, mengatakan kepada koresponden ITV News di Afrika, John Ray, bahwa militer sudah menyingkirkan Mugabe.
Mutsvangwa mengindikasikan rencana untuk menaikkan mantan Wakil Presiden Emmerson Mnangagwa, yang sempat diasingkan, sebagai pemimpin, tapi juga termasuk pihak oposisi.
Mugabe -- kepala negara tertua di dunia -- pekan lalu, memecat Mnangagwa dan menuduhnya berencana mengambil alih kekuasaan, termasuk melalui sihir.
Mnangagwa, yang mendapat dukungan militer, melarikan diri dari Zimbabwe ke Afsel setelah mengaku telah diancam.
Lebih dari 100 pejabat senior, yang diduga mendukung Mnangagwa, terdaftar untuk dikenai tindakan disipliner oleh sebuah faksi yang terkait dengan Grace Mugabe.
Perseteruan siapa melawan siapa, yang akan menggantikan Mugabe, telah semarak. Ibu Negara Mugabe dipandang sebagai pengganti yang tepat.
Grace Mugabe, 52, banyak dikritik karena temperamennya yang berapi-api dan nafsu belanja yang mewah. Namun profil politiknya yang mencuat dipertanyakan apakah dia bermanuver demi menggantikan suaminya.
Militer menjadi pilar utama kekuatan Mugabe sejak kemerdekaan dari pemerintahan minoritas kulit putih pada 1980.
Seorang pejabat senior polisi mengatakan bahwa semua petugas kepolisian nasional yang sedang cuti segera dipanggil kembali bertugas.
Reaksi mancanegara
Ketika ditanya tentang tanggapan Inggris terhadap perkembangan di Zimbabwe, Perdana Menteri Theresa May mengatakan situasi sedang dipantau dengan hati-hati. Ia menambahkan bahwa keadaan masih "tidak pasti".
"Kami akan menahan diri dari segala sisi karena ingin melihat dan menyerukan penghindaran kekerasan," katanya kepada anggota parlemen.
PM Inggris menambahkan bahwa perhatian utama adalah keamanan warga Inggris di Harare, dan merekomendasikan agar mereka tinggal di rumah sampai situasi "menjadi lebih jelas".
Ketua Komisi Uni Afrika (AU) berkata kepada wartawan di Washington bahwa Robert Mugabe dan istrinya "aman di negara itu".
Komentar Moussa Faki Mahamat di National Press Club dibagikan di Twitter oleh juru bicara AU. Timbul pertanyaan apakah Ibu Negara Grace Mugabe sudah meninggalkan Zimbabwe.
Pemimpin AU itu mengatakan sebuah delegasi dari Komunitas Pembangunan Afrika Bagian Selatan (SADC) terdiri 15 negara sudah berada di Harare. Mereka berupaya untuk bertemu dengan Mugabe dan tentara.
Lembaga kontinental itu menentang "pengambilalihan kekuasaan yang tidak sah di manapun di benua ini," pungkas ketua AU.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News