Delegasi PBB menggelar konferensi pers di Bamako, 23 Maret 2019, terkait serangan yang menewaskan 134 orang di Mali. (Foto: MINUSMA/Harandane Dicko)
Delegasi PBB menggelar konferensi pers di Bamako, 23 Maret 2019, terkait serangan yang menewaskan 134 orang di Mali. (Foto: MINUSMA/Harandane Dicko)

PBB Kutuk Serangan yang Tewaskan 134 Orang di Mali

Internasional pbb konflik mali
Willy Haryono • 24 Maret 2019 18:14
Bamako: Perserikatan Bangsa-Bangsa mengutuk keras serangan bersenjata di sebuah desa di Mali yang dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 134 orang dan melukai puluhan lainnya. Serangan dilancarkan kelompok bersenjata yang mengenakan pakaian tradisional pemburu Dogon.
 
"Kami mengutuk keras serangan yang sangat mengerikan ini," kata Francois Delattre, Duta Besar Prancis untuk PBB yang berbicara sebagai Presiden DK PBB dalam konferensi pers di Bamako, Mali, Sabtu 23 Maret 2019 malam waktu setempat.
 
Delegasi DK PBB sudah berada di Mali sejak akhir pekan kemarin. Mereka datang ke Mali untuk membicarakan mengenai meningkatnya aksi kekerasan komunal.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dubes Pantai Gading untuk PBB Kakou Haouadja Leon Adom menyebut, serangan brutal di desa Ogossagou itu sebagai "tindakan barbar." Ia mengungkapkan belasungkawa kepada keluarga korban dan juga pemerintah Mali.
 
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB mengatakan bahwa Antonio Guterres "terkejut dan marah" usai menerima laporan adanya 134 korban tewas dalam serangan di Mali. Beberapa dari korban tewas itu adalah wanita dan anak-anak.
 
"Sekjen mengutuk keras tindakan ini, dan menyerukan kepada otoritas Mali untuk segera menginvestigasinya dan menyeret pelaku ke hadapan hukum," ujar pernyataan resmi kantor Guterres.
 
"Beliau juga meminta otoritas Mali meningkatkan upaya untuk mengembalikan perdamaian dan stabilitas di Mali bagian pusat," lanjutnya.
 
Dalam pernyataan terpisah, Kepala Misi PBB untuk Mali (MINUSMA), Mahamat Saleh Annadif, menyerukan diakhirinya rantai kekerasan di Mali. MINUSMA mengaku telah mengerahkan sebuah unit respons cepat ke lokasi serangan.
 
"Tragedi ini mengingatkan kita semua mengenai banyaknya tantangan (di Mali bagian pusat)," sebut Annadif.
 
Etnis Fulani dikabarkan menjadi target utama dalam serangan. Selama ini, bentrokan antara Dogon dan Fulani di Mali terjadi dari waktu ke waktu. Pertempuran biasanya dipicu masalah lahan, perairan atau hewan ternak.
 
Dogon juga menganggap Fulani memiliki keterkaitan dengan sejumlah grup ekstremis. Sementara Fulani mengklaim militer Mali telah mempersenjatai Dogon untuk menyerang mereka.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif