KBRI Amman Pulangkan TKW yang Hilang 13 Tahun Lalu
DT saat ditemui Duta Besat Andy Rahmianto di KBRI Amman. (Foto: KBRI Amman)
Amman: Kedutaan Besar Republik Indonesia di Amman, Yordania, akhirnya berhasil memulangkan tenaga kerja wanita berinisial DT, 30, yang diadukan keluarganya telah hilang sejak 13 tahun lalu. 

DT tiba di Jakarta pada Sabtu 11 Agustus 2018. Setibanya di Jakarta, DT ditangani Kementerian Luar Negeri untuk didalami kasusnya, sebelum nantinya dipulangkan ke kampung halaman di Indramayu, Jawa Barat.

Sejak kasus DT diketahui Kemenlu RI pada awal 2018, KBRI Amman melakukan upaya pencarian dengan berbagai cara. Selain melalui simpul-simpul masyarakat Indonesia yang ada di Yordania, pencarian DT juga melibatkan pengacara KBRI Amman. 


"Jujur saja rasanya seperti menerima tugas mission impossible, karena mencari seseorang di luar negeri nyaris tanpa data apapun yang dapat dijadikan rujukan. Tapi karena rasa kepedulian serta keberpihakan, seluruh Tim Perlindungan WNI KBRI Amman bekerja keras mencari tahu keberadaan DT tanpa kenal lelah," ujar Andy Rachmianto, Duta Besar RI untuk Kerajaan Yordania, saat pertama kali menerima instruksi pencarian dari Kemenlu RI.

Pada sekitar April 2018, jejak keberadaan DT akhirnya tercium. Namun demikian, upaya menghubungi dan mengambil DT dari majikannya adalah perjuangan yang tidak kalah beratnya. 

Dalam kasus-kasus serupa, majikan selalu berusaha mencegah komunikasi TKW-nya dengan KBRI. Namun dengan bantuan Anti-Human Trafficking Unit (AHTU) Yordania, KBRI berhasil mengambil paksa DT dari majikannya. 

Saat ditemukan, DT dalam keadaan sehat, namun sama sekali tidak bisa lagi berkomunikasi dalam Bahasa Indonesia. 


DT berfoto bersama Dubes Andy di depan KBRI Amman. (Foto: KBRI Amman)

"Mengambil dari majikannya adalah satu hal. Tapi memastikan semua haknya dipenuhi sebelum dipulangkan adalah hal lain yang tidak kalah pentingnya. Kehadiran kami dalam menolong DT harus tuntas," imbuh Dubes Andy Rachmianto, dalam keterangan pers yang diterima Medcom.id.

Sembari menunggu pemenuhan hak-haknya, selama di penampungan (Griya Singgah) KBRI Amman, DT berkesempatan belajar kembali menggunakan Bahasa Indonesia dan melakukan penyesuaian-penyesuaian lainnya sebelum pulang. DT juga berkesempatan berpartisipasi dalam berbagai lomba dalam rangka peringatan HUT RI.

"Rasanya aku tidak akan pernah kembali ke Indonesia dan bertemu kembali dengan keluargaku. Aku sudah pasrah dan tidak tahu harus berbuat apa. Terima kasih KBRI sudah mengubah hidup aku," ucap DT penuh keharuan.

DT berangkat ke Yordania pada 2005 saat usianya belum lagi genap 17 tahun. DT direkrut sponsor/calo tetangga desanya berisial JI. Ia diberangkatkan ke Yordania oleh dua buah perusahaan penempatan yang berkantor di Jakarta Timur dengan menggunakan visa turis. 

Sejak tiba di Yordania, agen yang menerima DT mempekerjakannya kepada majikan yang berganti-ganti, tidak pernah dilaporkan ke KBRI, tidak pernah diperpanjang paspornya, tidak dibuatkan izin tinggal dan tidak pernah diberikan kesempatan komunikasi dengan keluarga. 

Ia bahkan saat ini terlantar karena agen Yordania yang mendatangkannya dari Indonesia sudah ditutup. 

"Kami berharap aparat penegak hukum di Tanah Air dapat mendalami kasus ini dan menghukum mereka yang terlibat. Kita tidak ingin ada DT-DT berikutnya yang menjadi korban lagi," harap Dubes Andy Rachmianto.



(WIL)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id