Pasukan Pemerintah Suriah Perluas Serangan Dekat Quneitra
Pasukan Suriah melakukan penjagaan di pos keamanan (Foto: AFP).
Quneitra: Pasukan yang setia kepada Presiden Suriah Bashar al-Assad memperluas serangan mereka di barat daya negara itu ke sebuah provinsi terdekat. Serangan ini beberapa hari setelah tercapainya kesepakatan evakuasi dengan pemberontak di Provinsi Deraa selatan.
 
Disokong dukungan udara Rusia, pasukan pro-pemerintah mengebom sebuah desa yang dikuasai pemberontak di Quneitra. Wilayah itu bersebelahan dengan Dataran Tinggi Golan yang diduduki Israel.

Mereka mengincar untuk merebut kembali sebidang kawasan antara provinsi Deraa dan Quneitra yang masih berada di tangan pemberontak.
 
Pemantau Syrian Observatory for Human Rights (SOHR) yang berbasis di Inggris mengatakan jet-jet tempur yang diyakini milik angkatan udara Rusia melindas Desa Mashara, 11 kilometer dari perbatasan Golan.
 
Televisi al-Mayadeen yang memiliki kaitan Hizbullah melaporkan, pasukan pro-pemerintah semakin maju di dataran tinggi Tel Mashara.
 
Sebelumnya, pejuang pemberontak dan anggota keluarga mulai dievakuasi ke kota Deraa selatan dengan bus yang akan membawa mereka ke daerah yang dikuasai oposisi di Suriah utara.
 
Pejabat pemberontak, Abu Shaima, mengatakan kepada kantor berita Reuters setidaknya 500 pejuang menaiki 15 bus dan dia salah satu dari mereka yang pergi.
 
Pemberontak meninggalkan pemukiman Deraa al-Balad yang berada di bawah kendali mereka selama bertahun-tahun sampai kesepakatan menyerah pekan lalu. Berdasarkan perjanjian tersebut, para pejuang menyerahkan senjata dan mereka yang tidak ingin hidup di bawah kekuasaan negara boleh pindah.
 
Salah satu pejuang pemberontak, Abdullah Masalmah, juga mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak "mempercayai Rusia atau rezim".
 
"Saya tidak dapat melupakan ribuan orang yang dibunuh oleh rezim apalagi anak-anak yatim, terluka, dan para tahanan," katanya, seperti dilansir dari Al Jazeera, Senin 16 Juli 2018.
 
Deraa direbut kembali
 
Pemerintah Suriah, didukung militer Rusia, merebut sebagian besar Provinsi Deraa dalam serangan yang dimulai pada Juni.
 
Kota Deraa menjadi lokasi protes besar pertama yang berlangsung damai terhadap pemerintahan Presiden Assad pada Maret 2011.
 
Sekelompok pemuda menulis slogan anti-pemerintah di dinding-dinding sekolah, memulai protes populer tanpa senjata di seluruh negeri. Namun, respons brutal Assad menimbulkan pertempuran penuh dengan berbagai kekuatan dunia mendukung sejumlah kelompok bersenjata.
 
Diperkirakan setengah juta orang tewas dengan 11 juta lebih mengungsi dalam lebih dari tujuh tahun konflik.
 
Kantor berita pemerintah Suriah, SANA, melaporkan pada Minggu 15 Juli, para pemberontak menyerahkan senjata berat kepada tentara Suriah, menunjukkan gambar kendaraan lapis baja dan artileri yang katanya telah dikumpulkan.
 
Ini menandai tonggak lain dalam upaya Assad memulihkan kekuasaan atas Suriah, beberapa bulan setelah daerah pedesaan Damaskus di Ghouta direbut kembali dalam serangan udara dan darat berdarah di mana lebih dari 1.400 orang terbunuh.
 
Rezim kini memegang 80 persen Provinsi Deraa, tetapi bagian dari pedesaan barat dan sebagian besar provinsi Quneitra yang terdekat masih lepas kendali. Sekitar 160.000 orang yang telantar akibat serangan pemerintah terhadap Deraa masih terperangkap di Quneitra.
 
Pada Minggu, pasukan pemerintah menembakkan ratusan rudal sebagai bagian dari serangan pertama di provinsi tersebut dalam lebih dari satu tahun ketika Rusia, Amerika Serikat, dan Yordania menyetujui gencatan senjata di bagian selatan, SOHR mengatakan.
 
Sementara itu, Bulan Sabit Merah Arab Suriah melaporkan satu konvoi bantuan kemanusiaan mencapai bagian Suriah barat daya yang dikuasai pemerintah pada Ahad.
 
Sembilan truk membawa 3.000 paket makanan mencapai kota Nassib dan Um al-Mayathen di provinsi Deraa dekat perbatasan Yordania.
 
Konvoi itu dikawal delegasi termasuk koordinator kemanusiaan PBB di Suriah, Ali al-Zaatari, dan perwakilan dari Komite Internasional Palang Merah.



(FJR)

metro tv
  • Opsi Opsi
  • kick andy Kick Andy
  • economic challenges Economic Challenges
  • 360 360

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id