Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir (Foto:Medcom.id/Sonya)
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir (Foto:Medcom.id/Sonya)

Pemulangan WNI Eks ISIS Rumit

Internasional krisis suriah wni gabung isis
Sonya Michaella • 28 Maret 2019 18:39
Jakarta: Indonesia masih memungkinkan untuk memulangkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang sempat bergabung dengan kelompok militan Islamic State (ISIS) di Suriah maupun Irak. Namun, proses pemulangan tersebut cukup sulit.
 
“Saya saat ini tidak bisa sampaikan apakah iya betul bahwa mereka akan kembali, kapan kembalinya, bagaimana kembalinya. Jadi itu ada tahapan panjang yang harus kami lakukan,” kata juru bicara Kementerian Luar Negeri RI Arrmanatha Nasir di Jakarta, Kamis 28 Maret 2019.
 
“Yang pertama adalah melakukan verifikasi apakah mereka tetap merupakan WNI. Itu tentunya ada proses verifikasi sendiri, bukan hanya dilakukan Kemlu, tapi juga oleh tim dari BNPT, kepolisian, maupun BIN,” lanjut dia.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Arrmanatha menambahkan, para WNI terduga ISIS ini juga akan terlibat dalam melakukan proses verifikasi apakah mereka masih berstatus WNI atau tidak. Setelah itu, Indonesia baru bisa menentukan apa yang akan dilakukan.
 
“Ada sejumlah proses dan tahap yang dilakukan di Suriah dan Indonesia untuk proses pemulangan ini,” ungkap dia.
 
Pada tahun lalu, ujar dia, ada beberapa WNI dari Suriah yang kembali dan proses tersebut sangat panjang. Begitu para WNI ini tiba di Indonesia, mereka akan dijaga sangat ketat oleh instansi-instansi terkait.
 
Sementara itu, dilaporkan puluhan WNI ditemukan di antara ribuan keluarga pejuang ISIS yang berada di kamp-kamp penampungan Al Hol, timur Suriah.
 
Lebih dari sembilan ribu anggota keluarga pejuang ISIS di kamp penampungan tersebut, seiring dengan kekalahan ISIS di Timur Tengah.
 
Pengumuman kemenangan atas ISIS disampaikan Pasukan Demokratik Suriah (SDF) pada Sabtu 23 Maret. Para pejuang SDF mengibarkan sejumlah bendera kuning di Baghouz sebagai tanda kemenangan.
 
Meski kehilangan wilayah di Irak dan Suriah, simpatisan ISIS masih tetap aktif di banyak negara, mulai dari Nigeria hingga Filipina. Saat masih berjaya dulu, ISIS menguasai 88 ribu kilometer per segi di Irak dan Suriah.
 
ISIS merupakan pecahan dari kelompok al-Qaeda di Irak setelah invasi Amerika Serikat di negara tersebut pada 2003. ISIS kemudian bergabung dalam pemberontakan melawan Presiden Suriah Bashar al-Assad di tahun 2011.
 
Tiga tahun setelahnya, ISIS merebut banyak wilayah di Suriah serta Irak dan mendeklarasikan kekhilafahan. Pemerintah Irak telah mendeklarasikan wilayahnya bersih dari ISIS pada 2017.
 

(WAH)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif