Pakar ekonomi politik internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Faris Al-Fadhat, menilai kesepakatan tersebut sebagai langkah awal menuju perdamaian. Namun, situasi terkini menunjukkan sejumlah tantangan serius.
Menurutnya, gencatan senjata selama dua pekan sudah diambang batal hanya dalam beberapa hari.
“Baru satu hari kita melihat ada dua aspek yang mungkin ini memberatkan dan juga bisa atau sudah membuat perdamaian atau genjatan senjata ini gagal," kata Faris dikutip dari Media Indonesia, Kamis, 9 April 2026.
Faris menyebut persoalan pertama terkait belum adanya kesepakatan mengenai pengelolaan Selat Hormuz, yang menjadi titik krusial dalam dinamika konflik.
"Yang pertama memang masih tidak adanya titik temu untuk mengelola Selat Hormuz," ujarnya.
Ia menjelaskan, Selat Hormuz memiliki nilai strategis tinggi bagi Iran, sementara AS menuntut agar jalur pelayaran tersebut tetap dibuka.
"Di mana Selat Hormuz ini kan menjadi wilayah politik Iran, namun Amerika Serikat meminta untuk itu dibuka. Tapi kita lihat setelah genjatan senjata itu kan tidak ada yang berani untuk lewat," sebutnya.
Iran kembali tutup akses Selat Hormuz
Terbaru Iran akhirnya kembali memutuskan untuk menutup akses Selat Hormuz di tengah masa gencatan senjata dengan Amerika Serikat (AS). Adapun alasan Iran kembali menutup perairan Hormus menyusul serangan udara Israel ke wilayah Libanon pada Rabu, 8 April 2026 waktu setempat.
Teheran menilai Israel telah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan melancarkan serangan ke Lebanon.
Dengan berbagai dinamika tersebut, Faris meragukan kesepakatan gencatan senjata dapat bertahan lama.
"Ini yang saya setuju bahwa kesepakatan ini tampaknya tidak bisa berumur panjang. Bahkan lebih dari satu hari pun tampaknya ini sudah tidak bisa," bebernya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News