Pasukan pemerintah merebut kamp pengungsi Palestina yang sebelumnya dikuasai pemberontak di Handarat lewat serangan udara gencar di basis pemberontak, bagian timur Aleppo. Serangan itu menewaskan 52 orang, termasuk 11 anak-anak dan enam perempuan, menurut Observatorium HAM Suriah (Syrian Observatory for Human Rights/SOHR) yang berbasis di Inggris. Komite Koordinasi Lokal (Local Coordination Committees), kelompok pemantau lain, mengatakan, 49 tewas pada hari Sabtu 24 September.
SOHR menyebutkan, korban tewas di Aleppo diperkirakan akan meningkat karena banyak yang berada dalam kondisi kritis dan para relawan SAR masih menggali puing-puing reruntuhan.
Warga mengatakan, pemboman terbaru menjadi yang terburuk dari yang pernah mereka lihat sejak para pemberontak merebut beberapa bagian kota itu pada 2012. Para aktivis melaporkan, puluhan serangan udara dilancarkan pada hari Jumat 23 September.
"Sejak awal krisis, Aleppo belum mengalami serangan keji seperti ini," kata Mohammed Abu Jaafar, seorang ahli forensik, yang berbasis di kota itu. "Aleppo sedang dimusnahkan."
Beberapa hari terakhir, pelbagai tayangan dan foto-foto dari Aleppo Timur menunjukkan bangunan telah hancur rata dengan tanah dan paramedis menggotong mayat-mayat dari reruntuhan. Para korban luka telah membanjiri klinik, di mana banyak yang dirawat terkapar di lantai karena kurangnya tandu.
"Orang-orang di Aleppo sudah tersiksa di bawah pengepungan, belum lagi datangnya serangan mengerikan," kata Carlos Francisco dari Doctors Without Borders, yang bertugas di sejumlah klinik. "Tidak ada bantuan diperkenankan masuk, termasuk obat-obatan yang dibutuhkan," tambahnya.
"Kami sangat khawatir dengan tingginya jumlah korban luka seperti dilaporkan oleh rumah sakit yang kami dukung. Kami juga tahu bahwa korban yang terluka dan sakit tidak punya tempat untuk dirawat sama sekali di beberapa daerah. Mereka dibiarkan mati," ucap Francisco.
Gempuran Tanpa Henti

Lokasi serangan udara pemerintah Suriah di Tariq a-Bab, Aleppo. (Foto: AFP)
Di kawasan Bustan al-Qasr yang dikuasai pemberontak, bom tandan menewaskan 13 orang dan melukai 150 lainnya, menurut Ibrahim Alhaj, anggota Pertahanan Sipil Suriah, relawan tanggap darurat yang juga dikenal sebagai White Helm.
Televisi pemerintah Suriah mengatakan, pemberontak menembaki kawasan Salhiyeh yang dikuasai pemerintah, menewaskan lima orang. SOHR menyatakan, pemberontak menembaki kubu pemerintah di Masyaf, pemukiman bagi sejumlah besar kaum Alawi, anggota mazhab Presiden Bashar al-Assad, yang hingga kini sebagian besar telah terhindar dari kekerasan.
Seorang pejabat militer Suriah yang tidak disebutkan namanya seperti dikutip media pemerintah, Jumat 23 September, mengatakan, bahwa serangan udara dan penembakan di Aleppo akan berlanjut untuk jangka waktu yang panjang "termasuk serangan darat" ke daerah-daerah yang dikuasai pemberontak.
Jatuhnya Handarat ke tangan tentara Suriah yang bersekutu dengan pejuang Palestina pro-pemerintah membuat pemberontak menjauh dari ruas jalan yang dikendalikan pemerintah, Castello Road, arteri utama menuju ke kawasan yang dikuasai pemberontak di kota itu.
"Menghadang pengepungan di Castello Road telah menjadi sangat sulit," Yassin Abu Raed, seorang aktivis oposisi yang berbasis di provinsi Aleppo, mengatakan kepada Associated Press seperti disitir Washington Post, Minggu (25/9/2016).
Seorang pejabat militer Suriah, yang juga tidak disebutkan namanya, dikutip oleh TV pemerintah mengatakan, pasukan pemerintah menewaskan banyak pemberontak di Handarat, dan bahwa para ahli bom sedang menyingkirkan bahan-bahan peledak dari sana. Kamp pengungsi, yang hampir kosong dan sebagian besar hancur, telah menderita pertempuran sengit dan pengeboman dalam beberapa tahun terakhir, sempat berpindah tangan beberapa kali.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News