Seorang warga di tengah ban yang dibakar dalam aksi protes di Sudan. (Foto: AFP).
Seorang warga di tengah ban yang dibakar dalam aksi protes di Sudan. (Foto: AFP).

Pembubaran Aksi Demo di Sudan Tewaskan 35 Orang

Internasional konflik sudan
Fajar Nugraha • 04 Juni 2019 14:24
Khartoum: Pembubaran massa protes di Sudan menimbulkan korban jiwa. Jumlah korban tewas dilaporkan sudah mencapai 35 orang.
 
Baca juga: Penguasa Militer Sudan Serukan Pemilu dalam 9 Bulan.
 
Sebuah dewan militer yang berkuasa telah menyerukan pemilihan umum ulang setelah pasukan menyerbu kamp utama pedemo pro-demokrasi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Sedikitnya 35 orang dalam tindakan keras yang telah terjadi. Sementara ratusan orang terluka Senin di ibu kota Khartoum ketika militer berusaha membubarkan aksi protes duduk oposisi,” menurut Komite Sentral Dokter Sudan, yang dekat dengan para pedemo, seperti dikutip AFP, Selasa, 4 Juni 2019.
 
Para demonstran telah menuntut agar Dewan Militer Transisi, yang telah memerintah negara itu sejak pasukan menggulingkan Presiden Omar al-Bashir sejak April, memberi jalan bagi badan sementara yang dipimpin warga sipil.
 
Setelah kudeta, dewan militer dan kelompok-kelompok oposisi menyepakati transisi tiga tahun menuju demokrasi. Namun dalam siaran Selasa pagi, pemimpin dewan Abdel Fattah al-Burhan menyerukan pemilihan nasional dalam waktu sembilan bulan.
 
“Satu-satunya cara untuk memerintah Sudan adalah melalui kotak suara," kata Al-Burhan dalam sebuah pidato di TV pemerintah.
 
“Pemilihan harus diawasi oleh kelompok pemantau, termasuk badan internasional dan regional. Pemerintah sementara akan dibentuk untuk mengawasi periode sebelum pemilihan,” tegas Al-Burhan.
 
Al-Burhan menggambarkan mereka yang meninggal pada Senin sebagai martir dan menyatakan penyesalan dalam kekerasan, meskipun ia tidak secara langsung mengatakan pasukan militer bertanggung jawab. Dia berjanji bahwa jaksa penuntut umum Sudan akan menyelidiki insiden itu dan mendesak orang untuk menunjukkan "semangat pengampunan."
 
Pada Senin, Jaksa Agung Maulana Al-Walid Sayed Ahmed Mahmoud mengumumkan bahwa sebuah komite telah dibentuk untuk menyelidiki insiden tersebut.
 
Internet diblokir
 
Internet di Sudan saat ini lebih terbatas daripada selama lengsernya Bashir. Organisasi pemantau Netblock menyebutkan, sejak Senin, ada penyumbatan di semua penyedia internet utama di negara itu, meskipun itu bukan pemadaman total.
 
"Tampaknya beberapa upaya sedang dilakukan untuk membatasi secara selektif, baik karena mereka yang memesan gangguan juga bergantung pada beberapa jaringan yang perlu tetap berjalan, atau karena operator jaringan tidak bekerja sama secara sukarela," kata Netblocks.
 
Amerika Serikat dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengutuk pembubaran aksi duduk tersebut. Kritik internasional juga mencuat usai media-media internasional memberitakan mengenai serangan pasukan keamanan di Ibu Kota Khartoum.
 
Dewan Keamanan PBB akan bertemu secara tertutup pada hari ini untuk membahas mengenai Sudan. Inggris dan Jerman yang meminta perundingan.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif