Belum dapat dipastikan apakah persetujuan itu berlaku bagi ribuan warga sipil yang terkepung. Namun hengkangnya pemberontak dari Aleppo, Rusia punya peranan besar di dalamnya.
Kantor HAM PBB mengaku memiliki bukti terpercaya soal data jumlah warga sipil yang tewas. Churkin mengatakan, pemberontak akan segera meninggalkan Aleppo dalam beberapa jam. Kesepakatan itu hanya ditujukan untuk pemberontak.
"Kesepakatan itu untuk para pemberontak agar segera pergi," kata Churkin, Selasa (13/12/2016).
Churkin memastikan, warga sipil dapat tetap tinggal di Aleppo. "Mereka (warga sipil) bisa tinggal dan dapat pergi ke tempat aman, mereka dapat mengambil keuntungan dari kepergian pemberontak. Tidak ada lagi yang akan membahayakan warga sipil," jelas Churkin.
Kelompok pemberontak sudah mengonfirmasi hal itu. Namun mereka mengusulkan untuk ikut menarik mundur warga sipil. Dewan Keamanan PBB pun sedang mengadakan pertemuan untuk membahas keadaan krisis di Aleppo.
Militer Rusia mengklaim bahwa 98 persen dari kota tersebut kembali ke tangan pemerintah. Namun hanya beberapa daerah yang dapat mereka kontrol, seperti Sukkari dan Mashhad.
Belum dapat diketahui persis berapa banyak warga yang terkepung. Kendati demikian, data dari Amerika Serikat menyebut ada sekitar 50 ribu orang berada di Aleppo timur.
Empat tahun terakhir ini Aleppo terbagi dua, di mana pemerintah menguasai Aleppo barat, sedangkan pemberontak mengepung Aleppo timur. Kemudian militer Suriah memecah kebuntuan dengan bantuan dari milisi Iran dan serangan udara Rusia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News