Gunung berapi Manaro di pulau Ambae aktif sejak 2005. Namun peningkatan aktivitas baru-baru ini telah meningkatkan kekhawatiran akan adanya erupsi besar.
Shadrack Welegtabit, direktur Kantor Manajemen Bencana Nasional Vanuatu, mengatakan pada Selasa 26 September bahwa Vanuatu akan mengumumkan keadaan darurat di pulau tersebut. Aktivitas di gunung berapi tersebut telah dinaikkan ke Level 4 untuk kali pertama sejak akhir pekan kemarin.
"Abu, api, batu, dan lahar muntah dari mulut gunung berapi. Ada banyak aktivitas yang sedang berlangsung," kata Welegtabit, seperti dikutip kantor berita Associated Press, Selasa 26 September 2017.
Dia belum dapat secara pasti mengatakan apakah akan ada letusan besar atau tidak. Hal terpenting, tambah dia, adalah warga telah dievakuasi. Untuk saat ini, mereka hanya perlu duduk dan menunggu perkembangan selanjutnya.
"Dengan alat pencatat aktivitas seismik, kita bisa mengukur apa yang terjadi. Tapi kita tidak bisa benar-benar memprediksi apa yang akan terjadi dengan gunung berapi itu," cetusnya.
Sekitar 10.000 orang tinggal di pulau Ambae. Welegtabit menyebut masyarakat di utara dan selatan pulau adalah yang paling rentan terkena dampak erupsi.
Pemerintah Vanuatu berencana mengirim sebuah kapal berisi pasokan air, makanan, dan persediaan lainnya ke Ambae. Diperkirakan bantuan tiba pada Rabu besok.
Departemen Meteorologi dan Geohazards Vanuatu mengatakan penduduk desa dalam jarak 6,5 kilometer dari gunung berapi menghadapi risiko besar dari bebatuan yang terlontar ke udara dan gas vulkanik. Hujan asam juga dikhawatirkan dapat merusak berbagai tanaman.
Vanuatu terletak antara Australia dan Hawaii. Terdiri dari 80 pulau, sekitar 65 di antaranya merupakan domisili bagi sekitar 280.000 jiwa.
Negeri ini dianggap sebagai salah satu yang paling rentan terhadap bencana alam, dengan setengah lusin gunung berapi aktif. Ancaman lainnya datang dari siklon tropis dan gempa bumi biasa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News