Perangkat yang kemudian dikenal dengan nama The Thing itu dipasang di kediaman resmi Duta Besar AS untuk Uni Soviet di Moskow.
Ironisnya, hadiah tersebut diberikan oleh sekelompok pramuka Uni Soviet pada 1945 sebagai simbol persahabatan kedua negara setelah bekerja sama selama Perang Dunia II.
Duta Besar AS saat itu, W. Averell Harriman, bahkan dengan bangga memajang ukiran tersebut di kediaman resminya, Spaso House. Ia tidak mengetahui bahwa benda yang menghiasi ruang kerjanya itu merupakan alat mata-mata.
Kisah ini menjadi salah satu operasi intelijen paling unik dalam sejarah Perang Dingin. Uni Soviet tidak menggunakan penyusup yang menyelinap ke ruang rahasia, melainkan sebuah karya seni yang justru dipercaya dan dipajang oleh targetnya sendiri.
Cara Kerja The Thing, Alat Penyadap Tanpa Baterai
Merangkum laman BBC, Rabu, 4 Oktober 2026, keistimewaan The Thing terletak pada teknologi yang digunakan. Perangkat ini tidak membutuhkan baterai, tidak memiliki komponen elektronik aktif, dan tidak menghasilkan panas sehingga sulit ditemukan melalui pemeriksaan keamanan konvensional.
John Little, spesialis kontra-penyadapan berusia 79 tahun yang telah lama mempelajari perangkat tersebut, bahkan membuat replika The Thing untuk memahami cara kerjanya.
Teknologi di dalamnya terdiri dari tabung-tabung menyerupai pipa organ dan sebuah membran yang bekerja seperti kulit drum. Membran tersebut bergetar mengikuti suara manusia di dalam ruangan.
Seluruh mekanisme itu dikemas dalam perangkat berukuran sangat kecil, bahkan disebut seukuran peniti topi.
Rekayasa perangkat tersebut dibuat dengan tingkat presisi tinggi, yang digambarkan sebagai "perpaduan antara arloji Swiss dan mikrometer".
Sejarawan H. Keith Melton menyebut bahwa pada masanya, The Thing "mengangkat ilmu penyadapan audio ke tingkat yang sebelumnya dianggap mustahil."
Lantas, bagaimana perangkat sekecil itu bisa mengirimkan percakapan tanpa baterai?
The Thing bekerja dengan memanfaatkan gelombang radio dari pemancar jarak jauh yang ditempatkan di gedung terdekat. Ketika pemancar diaktifkan, sinyal frekuensi tinggi diarahkan ke perangkat penyadap yang tersembunyi di dalam ukiran lambang negara AS.
Getaran suara manusia di dalam ruangan memengaruhi membran perangkat tersebut. Perubahan getaran itu kemudian memodulasi sinyal yang dipantulkan kembali melalui antenanya.
Dengan demikian, pihak Soviet dapat menangkap dan menerjemahkan percakapan dari jarak jauh tanpa perlu memasang sumber daya listrik di dalam alat penyadap.
Teknologi inilah yang membuat The Thing mampu beroperasi selama bertahun-tahun tanpa menarik perhatian petugas keamanan AS.
Terungkap Setelah Operator Radio Inggris Menangkap Sinyalnya
Selama bertahun-tahun, The Thing berhasil menjalankan tugasnya tanpa diketahui pihak Amerika Serikat. Rahasianya baru terbongkar pada 1951, ketika seorang operator radio militer Inggris yang bertugas di Moskow secara tidak sengaja menyetel perangkat radionya pada frekuensi yang sama dengan alat penyadap tersebut.Ia mendengar percakapan dari sebuah ruangan yang lokasinya cukup jauh. Temuan itu kemudian menjadi petunjuk penting bagi tim keamanan Amerika Serikat.
Setahun kemudian, pada 1952, teknisi AS melakukan pemeriksaan menyeluruh di Spaso House. Setelah pencarian selama tiga hari, mereka akhirnya menemukan bahwa ukiran lambang negara yang dipajang di kantor duta besar merupakan perangkat penyadap tersembunyi.
Teknisi Amerika Serikat menyadari bahwa lambang negara yang diukir dengan tangan itu sebenarnya adalah "telinga tak kasat mata" yang menyadap percakapan rahasia di balik pintu kantor duta besar.
Keberhasilan operasi tersebut diakui oleh salah satu teknisi Soviet yang mengoperasikan perangkat itu, Vadim Goncharov.
Ia mengatakan bahwa "selama bertahun-tahun, negara kami berhasil memperoleh informasi spesifik dan sangat penting yang memberi kami keuntungan tertentu… dalam Era Perang Dingin."