Sudan Selatan Sambut Kesepakatan Perdamaian Baru
Warga merayakan kesepakatan perdamaian baru di Sudan Selatan. (Foto: AFP).
Juba: Sudan Selatan merayakan perjanjian damai baru pada sebagai harapan besar buat mengakhiri konflik. Pertikaian telah menewaskan ratusan ribu orang. Tapi skeptisisme meluas bahwa perjanjian rapuh itu akan terus berlangsung.
 
Kesepakatan, guna mengakhiri perang saudara sejak 2013, menghendaki pasukan yang setia kepada Presiden Salva Kiir, dan kelompok-kelompok pemberontak yang memerangi mereka, untuk berbagi kekuasaan.
 
Berbicara pada sebuah upacara di Juba, ibu kota, Kiir menawarkan permintaan maaf untuk konflik yang "menjadi pengkhianatan terhadap rakyat kita dan perjuangan kemerdekaan".
 
"Sebagai presiden Anda, saya ingin meminta maaf atas nama semua pihak atas apa yang telah kami sebabkan kepada Anda, rakyat kami. Saya sangat menyesali luka fisik dan psikologis yang Anda derita. Hari ini menandai berakhirnya perang di Republik Sudan Selatan," dia berkata, seperti disitir dari Guardian, Jumat, 2 November 2018.
 
Riek Machar, pemimpin koalisi pemberontak terbesar di negara itu, kembali ke Juba untuk pertama kalinya sejak 2016 untuk ambil bagian dalam upacara yang melibatkan para biduan, panji-panji, dan tabuhan yang dipentaskan di hadapan pejabat regional.
 
"Kami datang untuk kedamaian dan guna mengakhiri penderitaan rakyat," kata Machar saat kedatangannya di bandara Juba. Dia ditemani oleh istrinya dan rombongan kecil, tetapi tanpa pasukan.
 
Banyak analis dan kelompok bantuan khawatir perjanjian, meskipun didukung kekuatan regional, tidak menghentikan kekerasan yang sedang berlangsung.
 
"Ini adalah model yang sama yang gagal secara spektakuler sebelumnya, tanpa alasan kegagalan itu ditangani," kata Alan Boswell, analis senior di International Crisis Group.
 
Peter Martell, jurnalis dan penulis buku yang baru-baru ini diterbitkan di Sudan Selatan, mengatakan ada "setiap alasan untuk memperkirakan perjanjian ini ambruk seperti perjanjian masa lalu" tetapi negara itu "sering mengejutkan".
 
Machar, di bawah ketentuan perjanjian perdamaian akan dipulihkan sebagai wakil presiden. Ia melarikan diri dari Juba dua tahun lalu dikejar oleh helikopter tempur ketika perjanjian perdamaian sebelumnya buntu di tengah tuduhan upaya kudeta.
 
Ratusan orang tewas dalam pertempuran antara pasukan yang setia kepada dua seteru, dan puluhan ribu lebih tewas dalam serangan yang terjadi kemudian. Sebagian besar korban adalah penduduk sipil.
 
"Kami benar-benar berdoa agar perjanjian damai ini berlaku saat ini," kata Juma Khamis, 27, yang berada dalam kerumunan menyaksikan upacara di dekat makam pahlawan nasional John Garang. Lokasi itu sama dengan di mana negara ini merayakan kemerdekaannya dari Sudan pada 2011 setelah beberapa dekade perang utara-selatan dipicu oleh minyak, etnis, dan agama.
 
Sunday Rose, 20, menjual teh di acara tersebut dan meminta para pemimpin untuk berkomitmen pada perdamaian. Tidak segera jelas apakah Machar, 65, akan tetap tinggal di Juba, karena para pembantunya sudah menyatakan keprihatinan atas keselamatannya di ibu kota.
 
Kiir mengatakan dia telah memerintahkan pembebasan seorang penasihat Machar asal Afrika Selatan yang dipenjarakan dan seorang juru bicara kelompok pemberontak sebagai bagian dari kesepakatan.
 
Perjanjian perdamaian ditandatangani di ibukota Ethiopia, Addis Ababa, pada September. Namun, meskipun memiliki dukungan regional, hanya sedikit sokongan dari kekuatan internasional.
 
Sudan Selatan memperoleh kemerdekaannya dengan dukungan signifikan dari pejabat senior dan selebriti seperti George Clooney. Pemerintah Amerika Serikat di bawah Donald Trump menunjukkan minat minim dalam keadaan yang semakin buruk di negara itu.
 
Pertempuran dan kekejaman telah memperparah perpecahan etnis dan menyebabkan salah satu krisis kemanusiaan terparah di dunia.
 
Para ahli mengatakan konflik kini telah berubah menjadi kekacauan. Berbagai faksi, milisi, dan kelompok-kelompok paramiliter berjuang untuk ambil bagian dari apa yang tersisa pada sumber daya Sudan Selatan.
 
Pertempuran telah berlanjut di kawasan Bahr el Ghazal dan Khatulistiwa Tengah, kata PBB pekan lalu. PBB sebelumnya menuduh pasukan pemerintah dan sekutu milisi potensial melakukan "kejahatan perang".
 
Menurut Badan HAM PBB, setidaknya 232 warga sipil tewas dan 120 perempuan dan anak perempuan diperkosa selama serangan antara 16 April dan 24 Mei di negara itu, tiga komandan diidentifikasi sebagai "bertanggung jawab penuh" dalam kekerasan.
 
Sepertiga penduduk mengungsi dan dua setengah juta orang dipaksa mengasingkan diri sebagai pengungsi. Mereka yang tersisa telah mengalami serangan kelaparan yang mematikan berulang kali.



(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id