Pasukan milisi Turki yang bergerak maju di Kota Ras al Ain. Foto: AFP
Pasukan milisi Turki yang bergerak maju di Kota Ras al Ain. Foto: AFP

Pasukan Kurdi Mundur saat Milisi Turki Bergerak Maju

Internasional Turki serang Kurdi
Arpan Rahman • 21 Oktober 2019 14:58
Ras al Ain: Pasukan yang didukung Kurdi untuk Pasukan Demokrat Suriah (SDF) telah ditarik dari kota perbatasan Ras al Ain setelah serangan Turki di Suriah utara untuk membangun ‘zona aman’.
 
Menurut Juru Bicara SDF Kino Gabriel tidak ada lagi pejuang Kurdi di kota itu. Kota Ras al Ain pekan lalu direbut oleh pemberontak yang didukung Turki.
 
Penarikan milisi Kurdi Suriah dimungkinkan karena jeda lima hari dalam pertempuran yang disepakati pada Sabtu oleh Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan dan Wakil Presiden Amerika Serikat (AS) Mike Pence.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Erdogan telah berjanji untuk ‘menghancurkan kepala’ para gerilyawan Kurdi di Suriah timur laut jika mereka tidak mundur dari wilayah itu sebelum berakhirnya gencatan senjata.
 
Dia mengklaim sudah memperingatkan delegasi AS dan mitranya dari Uni Eropa bahwa Turki akan melanjutkan operasi militernya jika gencatan senjata berakhir.
 
Presiden Turki itu dipaksa untuk menyangkal tuduhan bahwa pasukan militernya melakukan kejahatan perang. Tuduhan dilontarkan setelah berulang kali klaim bahwa beberapa anak terluka dalam serangan senjata kimia terhadap Ras al Ain, yang diduga melibatkan fosfor putih.
 
"Jika berjalan, itu akan berhasil. Jika tidak, kami akan terus menghancurkan kepala para teroris,” tegas Erdogan.
 
Pasukan yang didukung Turki mulai ofensif di kota itu pada 9 Oktober setelah panggilan telepon antara Erdogan dan Presiden AS Donald Trump. Setelah itu Trump secara efektif mendukung serangan Turki atas sebidang tanah di Suriah utara.
 
Trump kemudian dituduh meninggalkan para pejuang Kurdi yang telah berperang bersama pasukan AS dalam pertempuran bertahun-tahun untuk mengalahkan militan Islamic State (ISIS).
 
Trump mengatakan sudah saatnya bagi negara lain di kawasan itu untuk mengelola wilayah tersebut dengan aman. Tetapi menghadapi reaksi segera dan signifikan dari mitra koalisi lain yang telah bekerja untuk memerangi ISIS.
 
Erdogan bersikukuh dia berada di balik perjanjian itu dan ingin memukimkan kembali dua juta pengungsi Suriah di zona aman, yang disebut-sebut sebagai wilayah 440 km yang membentang dari barat ke timur di sepanjang perbatasan.
 
"Jika janji-janji yang dibuat kepada kita tidak ditepati, kita tidak akan menunggu seperti yang kita lakukan sebelumnya dan kita akan melanjutkan operasi begitu waktu yang kita tetapkan habis," kata Erdogan memperingatkan Kurdi, dilansir dari Sky News, Senin, 21 Oktober 2019.
 
Sebelum gencatan senjata berakhir, Erdogan merencanakan pembicaraan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin. Dia ingin pasukan Pemerintah Suriah untuk pindah dari daerah dekat perbatasan sehingga zona aman dapat dibuat, memungkinkan jutaan pengungsi yang telah diambil Turki selama bertahun-tahun untuk kembali ke tanah air mereka.
 
Pemimpin Suriah Bashar al Assad memindahkan pasukan ke wilayah itu setelah penarikan AS menyusul permintaan bantuan dari Pasukan Demokrat Suriah yang dipimpin Kurdi, yang mencari perlindungan dari serangan Turki.
 
Erdogan sepertinya tidak akan menerima dorongan dari Moskow, yang bersekutu dengan Presiden Assad dan menggambarkan serangan Turki sebagai ‘tidak dapat diterima’.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif