Pemberontakan Houthi dan Intervensi Saudi di Yaman
Milisi Yaman yang turut berperang bersama Houthi di Sanaa. (Foto: Mohammed Huwais/AFP/Getty Images)
Sana'a: Koalisi pimpinan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab yang berperang di Yaman berada di bawah tekanan internasional untuk mengakhiri keterlibatannya dalam perang di negara tersebut setelah terjadinya kasus pembunuhan jurnalis Jamal Khashoggi.

Sejak koalisi mengintervensi pada 2015, Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut krisis kemanusiaan di Yaman menjadi yang terburuk di dunia. Sejumlah kelompok hak asasi manusia mengestimasi konflik Yaman telah menewaskan sekitar 56 ribu orang, membuat setengah dari 28 juta penduduknya kelaparan dan memicu wabah kolera terburuk dalam sejarah modern.

Tapi siapa yang sebenarnya dilawan oleh koalisi, dan mengapa konflik di Yaman tak kunjung berakhir? Dilansir dari laman Guardian, Rabu 21 November 2018, pemberontak Houthi adalah gerakan perlawanan di Yaman yang sudah berlangsung selama berdekade-dekade. 


Gerakan ini muncul untuk menentang pengaruh religius Saudi di Yaman. Meski Houthi tidak dapat terus bertahan menghadapi kekuatan gempuran koalisi, mereka menegaskan tidak akan menyerah.

Asal-usul Houthi sebagai Kelompok Anti-Saudi

Gerakan Houthi didirikan pada 1990-an oleh Hussein Badreddin al-Houthi, anggota minoritas Syiah Zaidi Yaman, yang jumlahnya sekitar sepertiga dari total populasi. Hussein dibunuh tentara Yaman pada 2004, dan kelompok itu sekarang dipimpin saudaranya, Abdul Malik.

Kaum Zaidi, yang dulu merupakan kekuatan besar di Yaman utara, dikesampingkan selama perang saudara 1962-70. Zaidi semakin terasing pada 1980-an ketika ideologi Salafi Sunni tumbuh berkembang di Arab Saudi. Ideologi itu kemudian 'diekspor' ke Yaman. Sebagai respons atas pengaruh ideologi tersebut, para tokoh Zaidi mulai melakukan militerisasi untuk menghadapi Riyadh dan para sekutunya.

Peran di Arab Spring

Gelombang protes dan beberapa upaya pembunuhan memaksa Presiden Yaman Ali Abdullah Saleh mengundurkan diri pada 2012. Houthi, sebagai satu-satunya kelompok revolusioner dengan pengalaman militer, secara perlahan tapi pasti menguasai sejumlah wilayah di luar daerah kekuasaan mereka di utara.

Semakin menguat, Houthi mengesampingkan pembicaraan transisi kekuasaan dan malah ingin menciptakan pemerintahan baru usai jatuhnya Saleh. Pada 2015, mereka bersekutu dengan mantan musuh mereka, Saleh, dan merebut ibu kota, Sana'a serta menggulingkan presiden baru, Abedrabbo Mansour Hadi.

Baca: PBB: Separuh Populasi Yaman Butuh Makanan Darurat

Tujuan Houthi dalam Perang Sipil Yaman

Terlepas dari narasi perlawanan, Houthi tidak mengutarakan ide-ide politik atau visi misi pemerintahan meskipun mereka saat ini menguasai Sana'a dan Hudaidah, kota pelabuhan yang merupakan titik utama ekspor impor di Yaman.

Setelah mereka mencaplok Sana'a pada 2015, Presiden Hadi meminta sekutunya di Arab Saudi dan UEA meluncurkan kampanye militer untuk mengusir Houthi.

Desember lalu, Houthi berbalik dan membunuh Saleh setelah khawatir mantan presiden itu akan berkhianat dan bersekutu dengan koalisi Saudi. Kematiannya semakin merusak struktur komando Houthi. Pertikaian internal banyak terjadi di kalangan pemimpin, sayap militer, dan ulama Houthi.

Selama perang, Houthi dituduh menyiksa dan membunuh sejumlah wartawan serta kritikus, menyedot pasokan bantuan, menggunakan infrastruktur sipil sebagai perisai dan menganiaya minoritas Yahudi dan Baha'i di Yaman.

Hubungan dengan Iran

Houthi mengaku mencontoh taktik perang dari gerakan Viet Cong dan perlawanan di Amerika Latin serta Syiah Hizbullah di Lebanon. Baik Hizbullah dan Iran telah meningkatkan penyaluran senjata, rudal, pelatihan militer, dan dana untuk Houthi sejak 2014.

Sejauh mana pengaruh Teheran atas proses pengambilan keputusan di internal Houthi tidak diketahui dengan jelas. Namun Houthi pernah beberapa kali menentang saran Iran, termasuk soal permintaan dari Teheran untuk tidak menguasai Sana'a pada 2015.

Prospek Dialog Damai

Dialog damai konflik Yaman di Jenewa pada September tahun ini, yang pertama sejak 2016, dibatalkan setelah delegasi Houthi tidak hadir atas alasan keamanan. PBB sekarang bekerja keras memastikan keberhasilan pembicaraan baru, yang seharusnya berlangsung di Swedia pada akhir November.

Beberapa langkah membangun kepercayaan sedang dilaksanakan, termasuk mengevakuasi sejumlah milisi yang terluka ke Oman dan jaminan keamanan dari Kuwait bagi politisi Houthi yang ingin bepergian. 

Sebagai respons atas sejumlah langkah membangun kepercayaan tersebut Houthi berjanji akan menghentikan serangan terhadap koalisi Saudi -- konsesi paling signifikan dalam beberapa tahun terakhir, meski nyatanya masih ada pertempuran hingga saat ini.

Isu utama dalam dialog damai mendatang adalah Hudaidah, kota yang menjadi sumber pendapatan signifikan bagi Houthi dan bisa dibilang sebagai aset terpenting mereka. PBB ingin kedua pihak bertikai menyepakati menempatkan Hudaidah di bawah yurisdiksi PBB, yang dinilai sebagai satu-satunya cara mengurangi krisis kolera dan malnutrisi di Yaman.



(WIL)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id