"Kami memiliki lebih dari 14 universitas dan tingkat literasi kami di atas 90 persen - tertinggi di Afrika," ujar Mugabe, seperti dikutip BBC, Kamis 4 Mei 2017.
Zimbabwe kerepotan membayarkan gaji pegawai negeri sipil belakangan ini, dan berada di peringkat 24 dalam Indeks Pengembangan Manusia untuk Benua Afrika.
"Kami memiliki banyak sumber daya, mungkin lebih dari rata-rata negara di dunia," klaim Mugabe, dalam sebuah panel diskusi terkait negara-negara rentan di World Economic Forum di kota Durban, Afsel.
"Ada banyak panen raya di negara kami. Jagung, tembakau dan lainnya. Kami bukan negara miskin," tambah Mugabe, dengan tetap mengakui Zimbabwe memang mengalami sejumlah masalah.
Tahun lalu, lebih dari empat juta warga Zimbabwe membutuhkan makanan karena minimnya curah hujan. Zimbabwe sempat dikenal sebagai negara "keranjang roti" di Afrika Selatan.
Sejak 2016, Zimbabwe mengalami kekurangan uang parah dan mengenalkan mata uang baru sebagai pengganti dolar Amerika Serikat. Inflasi super parah memaksa pemerintah menyingkirkan dolar Zimbabwe pada 2009.
Setelah Mugabe berkuasa pada 1980, dia dipuji karena meningkatkan akses pendidikan, dan pada era 1990-an, Zimbabwe memang memiliki tingkat literasi tertinggi di Afrika.
Namun, sejumlah sekolah terkena dampak krisis ekonomi dan tingkat literasi di Zimbabwe pun terus menurun.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News