Prajurit dari Militer Prancis bersiaga di Soum, Burkina Faso, 10 November 2019. (Foto: AFP/MICHELE CATTANI)
Prajurit dari Militer Prancis bersiaga di Soum, Burkina Faso, 10 November 2019. (Foto: AFP/MICHELE CATTANI)

Dua Desa Burkina Faso Diserang, 36 Warga Tewas

Willy Haryono • 22 Januari 2020 08:31
Ouagadougou: Sedikitnya 36 orang tewas dalam serangan sekelompok militan ke dua desa di Burkina Faso bagian utara. Pemerintah Burkina Faso menyebut serangan tersebut dilakukan kelompok teroris.
 
Serangan berwal saat sekelompok militan membakar sebuah pasar dan membunuh 32 warga di desa Nagraogo. Dari sana, mereka bergerak ke desa Alamou dan membunuh empat orang lainya. Tiga orang terluka dalam dua serangan tersebut.
 
"Pemerintah Burkina telah menerima informasi mengenai kematian 36 warga akibat serangan teroris di provinsi Sanmatenga," ucap Menteri Komunikasi Remis Fulgance Dandjinou, disitat dari AFP, Selasa 21 Januari 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut keterangan warga Burkina Faso yang dihubungi AFP, ratusan orang telah melarikan dan mencari perlindungan di kota Kaya usai terjadinya serangan di dua desa.
 
Presiden Roch Marc Christian Kabore mengumumkan periode berkabung nasional selama dua hari mulai Rabu ini hingga Kamis besok. Ia menyerukan pengibaran bendera setengah tiang dan juga melarang segala jenis festival selama masa berkabung.
 
Merespons terus terjadinya serangan semacam ini, Pemerintah Burkina Faso menyerukan warga untuk menjalin "kerja sama" dengan petugas keamanan setempat dalam upaya menghalau serangan militan.
 
Parlemen Burkina telah mengadopsi sebuah aturan yang mengizinkan proses perekrutan relawan lokal dalam perang melawan kelompok militan dan grup ekstremis.
 
Berdasarkan dokumen yang telah dilihat AFP, relawan di atas 18 tahun dapat direkrut lewat persetujuan masyarakat setempat. Mereka yang telah direkrut akan mendapat pelatihan selama 14 hari, sebelum nantinya mendapat senjata api dan peralatan lainnya.
 
Burkina Faso, begitu juga dengan negara lain seperti Mali dan Niger, dilanda gelombang serangan ekstremis sejak awal 2015, yang telah menewaskan ratusan orang.
 
Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, sekitar 4.000 orang tewas dalam serangan ekstremis di tiga negara kawasan Sahel sepanjang tahun lalu.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif