medcom.id, Nairobi: Warga di Lucky Summer -- sebuah perkampungan kumuh Nairobi -- mengatakan diteror oleh orang-orang berambut gimbal yang mengenakan seragam paramiliter resmi Kenya. Para peneror berkeliaran di jalanan pada malam hari membawa parang, tongkat, dan senjata api.
Para pembuat onar anggota Mungiki, geng kriminal yang memainkan peran kunci dalam perang etnis menyusul pemungutan suara pada 2007 dan menewaskan setidaknya 1.100 jiwa, menurut lebih dari selusin orang yang diwawancarai secara acak dari apartemen bobrok dan gubuk-gubuk kumuh di timur laut kota. Serangan kelompok etnis Kikuyu yang dominan di kubu oposisi menandai sebuah peristiwa buruk sesudah pemilu yang disengketakan, pekan lalu.
"Saya berada di rumah bersama keluarga dan mendengar teriakan setelah pukul 11 malam," Idah Mutembale, ibu dua anak berusia 30 tahun, mengatakan dalam sebuah wawancara, pada 14 Agustus 2017.
"Lalu saya dengar suara tembakan. Itulah Mungiki. Mereka datang untuk menyerang kita. Saya takut. Saya ingin pindah dengan suami dan anak-anak saya dari tempat ini," lanjutnya seperti disitat Bloomberg, Rabu 16 Agustus 2017.
Sementara Presiden Uhuru Kenyatta, asal etnis Kikuyu, dinyatakan sebagai pemenang pada pemilu 8 Agustus, saingannya asal Luo, Raila Odinga, menolak menerima hasilnya dan akan mengumumkan rencana menentangnya pada Rabu 16 Agustus 2017.
Sejak pecah bentrokan antara pasukan keamanan dan pendukung Aliansi Super Nasional pimpinan Odinga telah menewaskan 24 orang, menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya. Pihak oposisi mengatakan, lebih dari 100 orang tewas.
Sejak pecah bentrokan antara pasukan keamanan dan pendukung Aliansi Super Nasional pimpinan Odinga telah menewaskan 24 orang, menurut Komisi Nasional Hak Asasi Manusia Kenya. Pihak oposisi mengatakan, lebih dari 100 orang tewas.
Polisi mengatakan hanya 10 korban yang terbunuh di Nairobi dan kebanyakan dari mereka adalah "penjahat" yang dibunuh oleh petugas yang diserang duluan. Mereka menghalau gerombolan yang dikerahkan demi menolak pertentangan pendapat oposisi. Pemerintah masih mengumpulkan informasi mengenai jumlah korban yang tewas dalam demonstrasi di tempat lain di negara tersebut, kata juru bicara Kementerian Dalam Negeri Mwenda Njoka.
Menyebarkan propaganda
"Seseorang menyebarkan propaganda untuk menanamkan rasa takut pada orang-orang kita bahwa mereka akan diserang oleh Mungiki," kata Japheth Koome, kepala polisi Nairobi kepada Nation TV. "Sudah tidak ada serangan di Lucky Summer. Kami memiliki petugas yang ditempatkan di semua wilayah. Kami belum menghubungi anggota masyarakat untuk bergabung dalam memelihara situasi ini. Kita setara dalam tugas," tuturnya.
Awalnya didirikan pada 1980an sebagai organisasi bela diri untuk Kikuyu, kelompok etnis terbesar di Kenya, terdiri lebih dari 40 suku, Mungiki menjadi organisasi sangat tertutup dan perkiraan jumlah mereka beragam. Kelompok tersebut dilarang pada 2002 sebagai bagian dari tindakan keras terhadap kejahatan terorganisir. Dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada 2010, Jane's Intelligence Review menggambarkannya sebagai organisasi kriminal terbesar di Kenya, yang mengkhususkan diri dalam pemerasan. Kaum Mungiki mengikat gimbal mereka pada Mau Mau, gerakan nasionalis Kikuyu yang berperang melawan pemerintahan kolonial Inggris di tahun 1950an.
Kenyatta banding
Kenyatta, 55, secara pribadi dikaitkan dengan Mungiki: Pengadilan Pidana Internasional menuduhnya memerintahkan geng untuk menyerang anggota Luhya, Luo, dan Kalenjin, tiga kelompok etnis terbesar berikutnya, setelah pemungutan suara 2007 dan menuduhnya melakukan kejahatan terhadap kemanusiaan. Kenyatta, yang saat itu menjadi menteri pemerintah daerah, membantah tuduhan tersebut dan kasusnya dibatalkan karena kurangnya bukti sesudah pemerintah menolak bekerja sama dengan pengadilan berbasis di Den Haag.
Kenyatta menyerukan ketenangan dalam dua pidato sejak pemilu ulang. Ia mengatakan kekerasan tidak akan ditolerir. Fred Matiang'i, pejabat menteri dalam negeri, dan pejabat senior lainnya membantah keterlibatan pihak berwenang dalam memicu kekerasan.
"Rumor keterlibatan Mungiki dalam malam penggerebekan sangat dipolitisir, mengingat perannya dalam kekerasan 2007-08," kata Emma Gordon, analis di Bath, penasihat risiko berbasis di Inggris, Verisk Maplecroft, mengatakan melalui email.
"Cerita dari penduduk kampung kumuh itu anggota Mungiki dalam seragam polisi melakukan penggerebekan malam sepenuhnya masuk akal. Namun secara bersamaan cerita-cerita ini terkait dengan narasi oposisi mengenai pengambilalihan kekuasaan negara oleh Kikuyu, sehingga sulit untuk diverifikasi," tambahnya.
Warga Lucky Summer, William Obura, 34, mengatakan bahwa perampok di lingkungannya kebanyakan adalah orang Kikuyu dan dia yakin mereka anggota Mungiki, meski mengenakan seragam pasukan keamanan.
"Sejak kapan polisi berambut gimbal Rastafarian, parang, dan pentungan lalu membobol pintu untuk masuk ke rumah," katanya.
Rumah-rumah hancur
Elisha Ouma, 28, mengatakan bahwa dia sudah melihat sekitar 100 pria berpakaian seragam membawa parang yang memenuhi salah satu ruas jalan tanah di Lucky Summer dan dia mendengar mereka berada di sana untuk membalas dendam pada orang Kikuyu, yang toko dan rumahnya di Nairobi telah hancur sejak pemilu.
Harian Standard berbasis di Nairobi, pada Selasa 15 Agustus 2017, menerbitkan tanggapan terpisah oleh penduduk Kibera, kawasan kumuh terbesar di kota itu: serangan militan berambut gimbal yang diduga anggota Mungiki.
Willbrode Otieno, 27, berkata telah menyaksikan sekitar 10 pria berseragam dengan rambut gimbal yang menyamarkan identifikasi diri mereka menggunakan kekuatan paksa demi memasuki rumah-rumah penduduk di Lucky Summer.
"Mereka ingin menakut-nakuti kita. Mereka ingin memadamkan gairah orang Luos untuk memilih," katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News