Pesawat jet tempur F-22 Raptor milik AS. (Foto: AFP)
Pesawat jet tempur F-22 Raptor milik AS. (Foto: AFP)

AS Bantah Serangan Udara Susulan usai Kematian Soleimani

Internasional iran Qassem Soleimani Garda Revolusi Iran
Willy Haryono • 04 Januari 2020 15:04
Baghdad: Koalisi pimpinan Amerika Serikat yang dibentuk untuk memerangi kelompok militan Islamic State (ISIS) membantah melancarkan sebuah serangan udara di utara Baghdad yang disebut-sebut menewaskan enam orang. Milisi Irak menyebut serangan di dekat Camp Taji itu menewaskan enam orang dan melukai tiga lainnya.
 
Menurut laporan beberapa media Irak, serangan udara itu dilakukan usai kematian Qassem Soleimani, kepala Quds Force yang merupakan cabang dari Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC). Soleimani tewas dalam serangan udara AS di Baghdad, Irak, Jumat 3 Januari.
 
Klaim yang beredar di media sosial Irak menyebutkan serangan udara AS di dekat Taji telah menewaskan seorang milisi Irak. Serangan itu disebut-sebut mengenai sebuah konvoi tim medis.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"FAKTA: koalisi tidak melancarkan serangan udara di dekat Camp Taji (utara Baghdad) dalam beberapa hari terakhir," ucap juru bicara koalisi pimpinan AS via Twitter, dikutip dari laman The National, Sabtu 4 Januari 2020.
 
Tak lama usai pernyataan koalisi, militer Irak mengeluarkan pernyataan yang menyebutkan tidak adanya serangan udara di area Taji pada Sabtu ini.
 
Soleimani tewas dalam serangan udara AS di sebuah bandara di Baghdad, Irak, Jumat 3 Januari. Kementerian Pertahanan AS atau Pentagon menyebut serangan udara itu telah disetujui Presiden Donald Trump.
 
Selain Soleimani, serangan udara juga menewaskan Abu Mahdi al-Muhandis, pemimpin dari grup milisi Irak Kataeb Hezbollah yang didukung Iran. Washington mengaku menyerang Kataeb Hezbollah sebagai balasan atas kematian seorang kontraktor asal AS di Irak pada Jumat 27 Desember.
 
Pemimpin Agung Iran Ayatullah Sayyid Ali Khamenei telah menunjuk Ghaani sebagai pengganti Soleimani. Khamenei menyebut Ghaani sebagai salah satu "komandan terhebat" IRGC selama masa Perang Iran-Irak di era 1980-an.
 
Ghaani memperingatkan AS akan adanya konsekuensi keras terhadap pembunuhan Soleimani.
 
"Kami telah meminta semua orang untuk bersabar, dan Anda semua akan melihat jasad-jasad Amerika bergelimpangan di seluruh Timur Tengah," kata Ghaani.
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif