Situasi Qatar masih tetap normal sejak tujuh negara Arab putuskan hubungan diplomatik (Foto: AFP).
Situasi Qatar masih tetap normal sejak tujuh negara Arab putuskan hubungan diplomatik (Foto: AFP).

Konsekuensi Krisis Diplomatik di Negeri Teluk

Fajar Nugraha • 06 Juni 2017 17:04
medcom.id, Doha: Krisis diplomatik dialami oleh Qatar dengan beberapa negara Timur Tengah. Perlu diperhatikan apa konsekuensi dari kondisi yang terjadi.
 
Setidaknya tujuh negara Timur Tengah yang dimotori Arab Saudi dan Bahrain memutuskan hubungan diplomatik dengan Qatar pada 5 Juni. Kemudian menyusul seperti Uni Emirat Arab (UEA), Mesir, Libya, Maladewa dan Yaman juga memutuskan hubungannya dengan Qatar.
 
 
Arab Saudi memutuskan akan menutup perbatasan serta menutup kontak darat, laut dan udara dengan Qatar. Pemerintah Arab Saudi, UEA dan Bahran sudah memberi waktu dua pekan bagi warga Qatar untuk keluar wilayahnya dan 48 jam bagi diplomat negara kecil ini.
 
Alasan pemutusan
 
Arab Saudi mengambil keputusan ini karena sikap Qatar yang mereka anggap 'merangkul kelompok teroris dan sektarian lain yang bertujuan membuat kawasan teluk tidak stabil'. 
 
Kelompok yang dimaksud Arab Saudi termasuk Al Qaeda, Islamic State (ISIS) dan Ikhwanul Muslimin. Selain juga kelompok lain yang didukung oleh Iran.
 
Konsekuensi Krisis Diplomatik di Negeri Teluk
 
 
Latar belakang
 
Pada dasarnya, ketegangan antara Qatar dengan negara tetangganya di Teluk sudah tumbuh dalam waktu beberapa tahun. 
 
Qatar mendukung gerakan Islamis di Timur Tengah, khususnya saat terjadi rangkaian Arab Spring pada 2011. Khususnya mendukung gerakan di Arab Saudi dan Uni Emirat Arab. Selain itu, Qatar juga menjaga hubungan dengan Iran yang selama ini dikenal sebagai musuh bebuyutan Arab Saudi.
 
Persaingan dengan Iran,-di mana Arab Saudi terlibat dalam beberapa perang proxy di wilayah kawasan,- mencuat dalam krisis kali ini. Pemicu krisis kali ini bisa dikatakan berawal dari kunjungan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump ke Timur Tengah. 
 
Beberapa pengamat menyebutkan bahwa Trump telah memberikan keberanian bagi negara Teluk untuk menyikapi Qatar. Sementara krisis antara Qatar dan Arab Saudi merupakan percobaan untuk membuat Qatar tidak lagi berseberangan dengan negara di kawasan lain.
 
Adu kekuatan militer
 
Luas wilayah Qatar sangatlah kecil dan terletak di wilayah semenanjung. Kekuatan militer Qatar juga dianggap sebagai salah satu yang paling kecil dibanding negara lain di kawasan.
 
Anggaran militer Qatar mencapai USD1,9 miliar. Jumlah itu hanya 3,4 persen dari anggaran militer Arab Saudi yang mencapai USD56,7 miliar. Tidak hanya itu, jumlah personel militer aktif juga hanya mencapai 10.000 orang. Sementara Arab Saudi memiliki 235.000 personel.
 
Untuk perlengkapan militer, Qatar memiliki 100 tank sementara Arab Saudi diperkuat dengan 1.142 tank. Mesir bahkan memiliki jumlah tank lebih besar, mencapai 4.110 tank.
 
Jet tempur yang dimiliki Qatar dilaporkan mencapai 15 pesawat. Bandingkan dengan Mesir yang memiliki 427 pesawat dan Arab Saudi yang memiliki 245 jet tempur aktif.
 
Tetapi ada satu hal kelebihan dari Qatar. Wilayah mereka menjadi Pangkalan Komando AS dan ada 10.000 prajurit ditempatkan di Qatar.
 
Salah satu aset signifikan lainnya dari Qatar adalah stasiun televisi Al-Jazeera, yang tidak disukai oleh beberapa pemerintahan di Timur Tengah. Mei lalu, empat negara Arab memblokir kantor berita milik pemerintah, setelah menampilkan komentar Emir Qatar yang memuji Iran. Pemerintah Qatar pun menuduh peretas membotol situs milik pemerintah dan memalsukan komentar dari Emir Qatar, Syekh Tamim bin Hamad Al Thani.
 
Tanggapan Qatar
 
Mengenai tuduhan mendukung terorisme yang dikeluarkan oleh Arab Saudi, Kementerian Luar Negeri Qatar menyesalkan tuduhan tersebut. 
 
"Qatar menjadi sasaran kampanye penuh kebohongan dan terlalu dibuat-buat. Ini adalah bentuk upaya melemahkan kedaulatan Qatar," pernyataan Kementerian Luar Negeri Qatar, seperti dikutip Guardian, Senin 5 Juni 2017.
 
Selain itu, Kemenlu Qatar menilai tuduhan tersebut dilontarkan untuk merusak reputasi Qatar di mata AS dan dunia internasional. 
 
 
Dampak jangka pendek
 
Segera setelah pemutusan hubungan diplomatik, muncul dampak langsung terkait jalur udara di kawasan. Maskapai nasional, Qatar Airways mengumumkan pembatalan seluruh penerbangan ke Arab Saudi. 
 
Sementara maskapai nasional Uni Emirat Arab (UEA), Etihad, juga menghentikan jadwal penerbangan dari Abu Dhabi menuju Qatar. Maskapai Emirates juga akan menghentikan jadwal penerbangan dari Dubai ke Qatar. Penerbangan maskapai murah FlyDubai juga akan menghentikan sementara jadwalnya dari dan ke Doha mulai hari ini.
 
Bursa saham Qatar pun dilaporkan jatuh hampir 8 persen dan dihadapkan pada ancaman kekurangan bahan makanan impor, setelah rute darat menuju negara itu ditutup. Qatar berada di wilayah pada Semenanjung Arab yang berbatasan darat dengan Arab Saudi dan perbatasan laut dengan Iran.
 
Artinya untuk harga minyak
 
Harga minyak selalu sensitif terhadap kondisi geopolitik kawasan dan prospek gangguan produksi. Meskipun tidak jelas bagaimana kondisi ini bisa mempengaruhi permintaan, para pedagang dengan cepat mendorong harga minyak mentah meningkat pada Senin 5 Juni.
 
Tetapi kondisi itu hanya bertahan sebentar. Harga minyak mentah naik USD1 dolar menjadi USD50 per barel, sebelum akhirnya turun lagi ke USD49,64 per barel.
 
Arab Saudi, Uni Emirat Arab dan Qatar adalah negara anggota Organisasi Pengekspor Minyak/Organisation of the Petroleum Exporting Countries (Opec). Arab Saudi menjadi pemimpin de facto dari OPEC, sebagai produsen minyak terbesar di dunia sementara Qatar adalah produsen minyak terkecil.
 
OPEC baru-baru ini sepakat untuk memotong produksi minyak demi membantu harga minyak. Sementara beberapa investor khawatir bahwa krisis dengan Qatar bisa memengaruhi kesepakatan itu. Rencana untuk meningkatkan harga juga diperparah dengan meningkatnya produksi minyak AS.
 
Kondisi yang terjadi saat ini juga membuahkan kekhawatiran mengenai pasar gas alam cair (LNG). Qatar menjadi pemasok LNG terbesar dunia dan Mesir serta UEA menjadi pelanggan kunci.
 
Meskipun Arab Saudi, UEA, Mesir dan Bahrain sudah menutup jalur transportasi dengan Qatar, negara ini masih bisa mengirim LNG dan minyak ke negara lain melalui laut.
 
 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News

Viral! 18 Kampus ternama memberikan beasiswa full sampai lulus untuk S1 dan S2 di Beasiswa OSC. Info lebih lengkap klik : osc.medcom.id
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan