Dalam pertemuan "World Assembly for Women atau WAW!" di Tokyo pada 28-29 Augustus 2015, PM Abe berjanji untuk membuat perempuan Jepang lebih bersinar dalam lingkungan kerja.
Namun visi tersebut menimbulkan pertanyaan dari pendiri lembaga swadaya masyarakat (LSM) Matahara Net, Sayaka Osakabe. Lembaga ini memperjuangkan hak ibu hamil dalam lingkungan kerja.
"Perempuan perlu dibiarkan bekerja tanpa ada pelecehan," tegas Osakabe, seperti dikutip The Economist, Jumat (4/9/2015).
Osakabe menyebutkan satu contoh di mana banyak pimpinan di perusahaan di Jepang meminta karyawannya yang hamil untuk melakukan aborsi. Seorang perempuan yang saat ini berkampanye untuk Matahara Net menceritakan kisahnya.
Perempuan yang tidak disebutkan namanya itu, menceritakan ketika bekerja di sebuah bank ternama Jepang. Dia yang kariernya tengah menanjak dinyatakan hamil.
Namun seorang manajer yang menjadi atasannya mengancam untuk menghancurkan karirnya dan karir kekasih,-yang bekerja di bank yang sama tetapi berbeda departemen- juga dia tetap melanjutkan kehamilannya. Pada 2011 dia mengikuti perintah manajernya dan melakukan aborsi.
Osakabe sendiri juga mengalami kejadian yang menyebabkan dirinya keguguran. Tingkat stres tinggi membuatnya keguguran dan tidak lepas dari perlakuan buruk atasan di lingkungan kerja.
Namun tidak semua pihak sepakat dengan Matahara. Ayako Sono seperti contoh, dia menyebut Matahara sebagai ekspresi kotor yang memperlihatkan reaksi berlebih dari perempuan terhadap masalah sosial yang dianggap kecil.
Bagi Matahara dan Osakabe sendiri, yang menjadi permasalahan di Negeri Sakura adalah kultur gila kerja. Bahkan karyawan diharapkan untuk tetap berada di lingkungan kantor meskipun tidak ada pekerjaan yang harus diselesaikan.
"Selain itu, perusahaan di Jepang juga kerap enggan untuk merekrut karyawan pengganti di saat karyawan yang hamil mengambil cuti. Tugas dari karyawan hamil yang cuti itu seringkali dibebankan ke karyawan lain," tutur Osakabe.
Inilah yang menyebabkan mengapa satu dari 10 perempuan di Jepang memilih meninggalkan karier mereka di saat melahirkan anak pertama.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News