Gua Sterkfontein di situs warisan dunia Cradle of Humankind, Johannesburg, Afrika Selatan. (Laurent Bruxelles/CNRS/AFP/Getty)
Gua Sterkfontein di situs warisan dunia Cradle of Humankind, Johannesburg, Afrika Selatan. (Laurent Bruxelles/CNRS/AFP/Getty)

Nenek Moyang Manusia Ternyata 1 Juta Tahun Lebih Tua dari Perkiraan

Medcom • 29 Juni 2022 20:55
Paris: Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa fosil yang ditemukan di Afrika Selatan berusia satu juta tahun lebih tua dari perkiraan sebelumnya. Ini artinya, manusia purba tersebut hidup pada waktu yang sama dengan kerabatnya dari Afrika Timur yang bernama "Lucy."
 
Gua Sterkfontein di situs warisan dunia Cradle of Humankind, Johannesburg merupakan titik yang menghasilkan lebih banyak fosil Australopithecus dibandingkan situs lain di dunia.
 
Salah satunya adalah "Mrs Ples," tengkorak terlengkap Australopithecus africanus yang ditemukan di Afrika Selatan pada 1947.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Berdasarkan pengukuran sebelumnya, Mrs Ples dan fosil lain yang ditemukan di kedalaman gua yang sama diperkirakan berusia antara 2,1 dan 2,6 juta tahun.
 
Tapi "secara kronologis itu tidak cocok," kata ilmuwan Prancis Laurent Bruxelles, salah satu penulis laporan penelitian yang terbit pada Senin di jurnal sains PNAS.
 
"Merupakan hal aneh beberapa Australopithecus bisa bertahan begitu lama," kata ahli geologi itu kepada AFP.
 
Sekitar 2,2 juta tahun silam, Homo habilis sudah hidup di wilayah tersebut. Homo habilis diketahui merupakan spesies paling awal dari genus Homo yang mencakup Homo sapiens.
 
Tapi tidak ada tanda-tanda Homo habilis di kedalaman gua tempat Mrs Ples ditemukan.
 
Menambah keraguan pada usia Mrs Ples, penelitian terbaru menunjukkan bahwa kerangka hampir lengkap dari Australopithecus yang dikenal sebagai "Little Foot" berusia 3,67 juta tahun.
 
Jarak usia yang begitu jauh antara Mrs Ples dan Little Foot sepertinya tidak mungkin lantaran keduanya hanya dipisahkan sedikit lapisan sedimen.
 
Karena fosil-fosil itu terlalu tua dan rapuh untuk diuji, para ilmuwan menganalisis sedimen di dekat tempat fosil ditemukan.
 
Penelitian menunjukkan bahwa perkiraan sebelumnya telah mengurangi usia sebenarnya, karena mengukur endapan mineral batu alir kalsit, yang lebih muda dari bagian gua lainnya.
 
Untuk penelitian terbaru, para peneliti menggunakan teknik nuklida kosmogenik. Teknik ini melihat tingkat isotop langka yang terbentuk ketika batuan yang mengandung kuarsa terkena partikel kecepatan tinggi dari luar angkasa.
 
"Pembusukan radioaktif terjadi ketika batu-batu itu terkubur di gua saat jatuh di pintu masuk bersama dengan fosil," kata penulis utama studi tersebut, Darryl Granger dari Universitas Purdue di Amerika Serikat, dilansir dari AFP, Rabu, 29 Juni 2022.
 
Para peneliti menemukan bahwa Mrs Ples dan fosil lain di dekatnya berusia antara 3,4 dan 3,7 juta tahun.
 
Ini berarti bahwa Australopithecus africanus seperti Mrs Ples satu zaman dengan Australopithecus afarensis Afrika Timur. Itu termasuk Lucy yang berusia 3,2 juta tahun dan ditemukan di Ethiopia, sebagaiman disampaikan Dominic Stratford, direktur penelitian di gua dan salah satu penulis studi.
 
Penemuan ini juga mungkin mengubah pemahaman seputar nenek moyang manusia.
 
Stratford mengatakan Australopithecus Afrika Selatan sebelumnya dianggap "terlalu muda" untuk menjadi nenek moyang genus Homo. Itu berarti bahwa rumah Lucy di Afrika Timur dianggap sebagai tempat yang lebih mungkin menjadi titik genus Homo berevolusi.
 
Tetapi penelitian baru menunjukkan bahwa Australopithecus Afrika Selatan memiliki waktu hampir satu juta tahun untuk berevolusi menjadi nenek moyang Homo kita. Atau keduanya bisa melakukannya bersama-sama.
 
"Selama jangka waktu jutaan tahun, hanya berjarak 4.000 kilometer, spesies ini memiliki banyak waktu untuk bepergian, untuk berkembang biak satu sama lain ... jadi kita dapat membayangkan evolusi umum di seluruh Afrika," kata Bruxelles.
 
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa sejarah hominid "lebih kompleks daripada evolusi linier," tambahnya.
 
Silsilah keluarga kita sebenarnya "lebih seperti semak, sebagaimana dikatakan mendiang teman kami, Yves Coppens," kata Bruxelles, merujuk pada ahli paleontologi Prancis yang ikut menemukan Lucy. Coppens meninggal pekan lalu.
 
"Ia sudah lama memahami sifat evolusi pan-Afrika," kata Bruxelles. (Kaylina Ivani)
 
Baca:  Bayi Mamut Beku Berusia 30.000 Tahun Ditemukan di Kanada
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif