Ilustrasi botol anggur berisi ular/Newsweek
Ilustrasi botol anggur berisi ular/Newsweek

Pria Tiongkok Digigit Ular Beracun dari Botol Anggur

Medcom • 26 Maret 2022 01:27
Harbin: Seorang ayah di Provinsi Heilongjiang, Tiongkok, dilarikan ke rumah sakit setelah digigit ular beracun dari anggur yang dibelinya setahun lalu. Reptil itu dikiranya sudah tidak bernyawa.
 
Pria itu membeli tiga botol anggur ular lantaran meyakini minuman tersebut dapat membantu menyembuhkan putranya yang menderita penyakit kronis. Minuman itu pun dibiarkan setahun supaya dapat memiliki “khasiat obat yang cukup”.
 
Setelah lewat satu tahun, sang ayah akhirnya membuka botol-botol tersebut untuk memberikan obat tradisional Tiongkok kepada anaknya. Saat dibuka, ketiga ular berbisa “hidup kembali”, lalu satu menggigit dirinya.

Usai mendapatkan perawatan darurat rumah sakit, ia dikabarkan selamat dari insiden yang dialaminya.
 
Baca: Pemerhati Reptil Tewas Digigit Ular Berbisa di Raja Ampat
 
Praktisi pengobatan tradisional Tiongkok memercayai wine ular mengandung sejumlah manfaat kesehatan, bahkan dapat mengobati rematik, artritis (radang sendi), dan flu.
 
Minuman kerap diracik dengan memasukkan ular ke dalam botol alkohol, biasanya arak beras (rice wine), kemudian dibiarkan beberapa bulan.
 
Para ahli menyampaikan peristiwa yang dialami pria itu tidak sepenuhnya aneh. Ular diduga mampu bertahan hidup dalam botol alkohol selama 12 bulan, apalagi jika tutupnya sedikit dibuka agar udara bisa masuk.
 
Namun, ahli herpetologi, Wolfgang Wuster menyebut itu “mustahil secara biologis”.
 
“Tidak ada ular yang dapat bertahan hidup terendam cairan apapun dalam botol selama lebih dari satu jam,” ujar pakar amfibi dan reptil itu kepada Newsweek.
 
“Ular tidak memiliki kekuatan sihir, mereka terbuat dari daging dan tulang seperti hewan lainnya, dan membutuhkan makanan, air, dan oksigen untuk bertahan hidup,” kata Wuster.
 
Beberapa spesies ular dapat memasuki brumasi, yakni keadaan mirip dengan hibernasi bagi reptil, ketika syarat-syarat terpenuhi, misalnya suhu yang sangat rendah. Selama brumasi, hewan tersebut membutuhkan lebih sedikit oksigen dan metabolismenya melambat. (Kaylina Ivani)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(ADN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan