Dermaga Valongo telah beroperasi selama tiga abad, dan menjadi titik masuk terbesar bagi budak Afrika di Brasil. Peninggalannya ditemukan saat pemerintah melakukan pekerjaan renovasi untuk Olimpiade 2016.
Brasil adalah salah satu negara tujuan utama pengiriman budak Afrika di benua Amerika.
Setelah perjalanan panjang melintasi Atlantik, para tahanan Afrika yang kurus kering dijaga di daerah dermaga agar kembali pulih dan bertambah berat badannya, sehingga bisa dijual di pasar budak.
Banyak budak yang tidak bertahan, dan akhirnya meninggal dunia untuk kemudian dikubur di pemakaman terdekat.
"Dermaga Valongo harus memiliki tempat yang sama dalam sejarah seperti Hirsohima dan Auschwitz, agar kita bisa mengingat bagian sejarah kemanusiaan yang tidak boleh dilupakan," kata UNESCO, seperti dikutip BBC pada Senin, 10 Juli 2017.
"Ini adalah bentuk peringatan unik, yang berisi sisa-sisa kedatangan para budak," kata antropolog Milton Guran kepada kantor berita AFP.
Banyak orang Brasil tidak menyadari pentingnya daerah ini sampai beberapa tahun lalu.
Sisa-sisa dermaga ditemukan secara kebetulan pada 2011, ketika beberapa orang memperbaiki rumah mereka dan menemukan sebuah kuburan massal, dengan tulang-tulang dan tengkorak.

Orang-orang berkumpul di Dermaga Valongo. (Foto AFP)
Kemerdekaan Brasil
Wartawan BBC, Julia Carneiro mengatakan, dermaga dan kompleks sekitarnya dibagun di tahun 1779 sebagai bagian dari upaya memindahkan apa yang dianggap "perdagangan yang tak sedap dipandang" ke daerah yang jauh dari pusat kota.
Beberapa blok dari dermaga terdapat sebuah kuburan, dimana antara tahun 1770 dan 1830, ribuan budak dimakamkan.
Perdagangan budak di Brasil dilarang pada 1831, setelah Brasil mengumumkan kemerdekaannya dari Portugal. Tapi hal tersebut terus berlanjut secara ilegal sampai perbudakan dihapuskan di tahun 1888.
Sekitar empat juta budak tiba untuk bekerja di perkebunan dan rumah tangga dari abad 17 hingga akhir abad ke-19. Sebanyak 40 persen dari jumlah mereka dibawa ke benua Amerika.
Setelah Brasil dinyatakan sebagai republik pada 1889, situs Valongo digunakan sebagai tempat pembuangan akhir. Sampai pada akhirnya, situs tersebut terkubur di bawah lapangan, jalan, dan tempat parkir mobil.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News