medcom.id, Naypyidaw: Air mata berlinang di mata Maung Lay saat ia menceritakan kehilangan lumba-lumba yang ia kenal sejak kecil.
Teman kecilnya korban terakhir dari pergulatan melawan polusi dan penyetruman ikan yang mungkin membuat spesies itu lenyap di Myanmar.
Digemari sejak beberapa generasi karena piawai mengumpulkan hasil tangkapan dalam jaring nelayan, lumba-lumba Irrawaddy yang 'tersenyum' dibunuh dalam jumlah yang memecahkan rekor oleh geng yang memakai baterai mobil untuk menyetrum makhluk air.
Teknik ilegal itu sekarang mengancam punahnya lumba-lumba dan sumber keuntungan wisata yang menjanjikan.
Lumba-lumba kenalan Maung Lay, yang dinamakan Thar Gyi Ma, ditemukan terdampar di tepi sungai pada November silam. Ketika penduduk setempat membelah badannya, mereka mendapati dia bunting!
"Dia tak tergantikan karena dia seperti orangtua saya sendiri. Saya patah hati," kata lelaki 55 tahun kepada AFP di dalam pondok bambu, sebuah desa kecil, beberapa jam berperahu dari Mandalay.
"Saya menebar karangan bunga untuknya di sungai," desahnya, berduka.
Lumba-lumba Irrawaddy dapat ditemukan di sungai, danau, dan laut di seluruh Asia selatan, dari barat laut Teluk Benggala, di India, hingga selatan Indonesia.
Di bentangan sungai di Myanmar, sang hewan telah mengembangkan ikatan yang mendalam dengan nelayan setempat, yang bekerja dalam sebuah kumpulan dari generasi ke generasi. Lumba-lumba telah menjadi hikayat dalam cerita rakyat setempat.
Dengan gerak hati-hati, penduduk setempat memanggil hewan yang suka mendengkur serak itu, lewat percikan dayung mereka, dan tepukan di sisi perahu.
Lumba-lumba memberi sinyal mereka siap mulai dengan jentikan siripnya, sebelum menuntun ikan-ikan menuju perahu nelayan, lalu mereka tinggal meraupnya dengan jaring terbentang.
Maung Lay berkata telah menghabiskan lebih dari 30 tahun menjaring ikan bekerja sama dengan sebuah kawanan terdiri tujuh lumba-lumba, yang dipimpin oleh Thar Gyi Ma.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News