Inspektur kepolisian kawasan Hua Hin, Sarawut Tankul mengatakan, kedua orang tersebut ditahan lantaran berdasarkan rekaman CCTV keduanya terlihat di area tersebut sesaat sebelum dan sesudah ledakan terjadi. Namun, ia enggan memberi penjelasan lebih lanjut terkait penahanan itu.
"Bukti awal menunjukkan bom berdaya rendah dan hanya untuk membuat pernyataan tegas," kata Sarawut, seperti dikutip dari Reuters, Jumat (12/8/2016) malam.
Terkait rentetan serangan yang terjadi, intelijen polisi mengatakan sempat mendapat informasi soal hal itu. Akan tetapi, informasi tersebut tidak menyebut lokasi atau waktu tepatnya.
"Kami tidak tahu kapan hal itu akan terjadi," kata Kepala Kepolisan Thailand Chakthip Chaijinda.
Sejak referendum untuk mengadopsi konstitusi yang disokong militer, Chakthip mengatakan setidaknya terjadi serangan di tujuh provinsi di Thailand. Bahan peledak diduga menggunakan improviasi perangkat peledak dan bom api.
Bahan-bahan peledak tersebut mirip dengan yang digunakan oleh kelompok separatis yang berada di selatan Thailand. Namun, hal itu belum dapat disimpulkan.
Kepolisian Thailand juga menampik adanya keterkaitan dengan jaringan teroris internasional dalam rentetan peledakan ini. Menteri Luar Negeri Thailand Don Pramudwinai mengatakan, aksi peledakan ini tidak terkait aksi teroris, tapi sebagai "Aksi untuk mengganggu ketenangan publik,"
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News